Tuesday, April 24, 2007

Hari Minggu di Puncak

Jenuh dengan menghabiskan weekend dari mall ke mall, tiba-tiba aja suami gue ngajak, “Ke Puncak, yuk..”. Tentu dengan semangat, gue mengiyakan ajakan suami gue. Meskipun gue bingung, di Puncak mau ke mana ya?

Hari Minggu, jam 05.30, setelah subuh, berangkatlah kita menuju Puncak. Jalanan masih terlihat gelap, tapi mobil-mobil di Jagorawi ke arah Ciawi sudah mulai ramai. Udara yang sejuk, sempat membuat kita mematikan AC mobil. Tapi, polusi dari bis, bikin kita terpaksa menutup kaca dan pasang AC lagi.

Melewati Puncak Pass, kita mulai saling bertanya, “Jadi kita mau ke mana? Mau ke Cipanas, terus ke Bandung? Atau main-main di Puncak aja?” Suami gue sempat bingung, akhirnya, setelah lewat Puncak Pass, mobil berbalik arah. Cari sarapan dulu, karena perut mulai ‘keroncongan’. Mampirlah kita ke warung-warung yang berjejer di pinggir jalan. Karena bingung mau makan apa, gak jauh-jauh kita pesen satu porsi indomie goreng dan satu porsi indomie rebus, dua-duanya pake telor dan minumnya, teh botol. Kita duduk di kursi yang langsung menghadap ke pegunungan dan kebuh teh. Duh… sejuk banget… seger rasanya.

Setelah sarapan, kita turun gunung lagi. Berhenti di parkiran Rindu Alam. Menikmati lagi udara yang bikin adem, tentunya sambil foto-foto. Abis itu, lanjut lagi perjalanan. Dan kita berhenti di Mesjid Atta'awun. Gak sempet masuk sih, hanya di halamannya aja. Banyak juga yang istirahat di sana. Karena tempatnya yang mencolok, cukup jadi perhatian orang yang lewat. Di pelataran parkirnya, banyak yang jualan mainan, aksesories, dan juga warung-warung indomie dan jagung bakar.

Setelah istirahat di sana, masih jam 8 pagi. Kita berdua memutuskan untuk ke Taman Safari Indonesia. Wah, seru juga kaya’nya. Mengingat mungkin udah 10 tahun lebih sejak gue terakhir ke sana. Jalan masuk menuju ke Taman Safari, penuh dengan anak-anak kecil yang jualan wortel. Gue dan suami sempet bingung, “Kenapa banyak yang jualan wortel begini?” Dan mereka menawarkan dagangannya dengan semangat banget. Belakang gue baru tahu, kenapa di sana didominasi dengan jualan wortel.

Ketika sampai di Taman Safari, pintu loket belum dibuka. Banyak mobil dan bis yang udah antri nunggu buka jam 08.30. Gue sempet mampir ke toko souvenir dan beli magnet gambar harimau dan gantungan kunci berbentuk orang utan dan badak.

Lalu, dimulailah petualangan kita di Taman Safari. Harga tiket masuk untuk satu orang adalah Rp. 40.000 dan mobil Rp. 15.000. Untuk Safari Night harganya lain lagi. Dan untuk turis asing, harganya tentu lebih mahal.

Rada deg-degan menunggu binatang apa yang pertama akan muncul, meskipun udah ada peta-nya sih. Hutan-hutan di kiri kanan cukup lebat. Dan, yang pertama kita lihat, adalah kawanan zebra. Mobil di depan, bergerak lambat, karena mereka berhenti untuk kasih makan ‘wortel’ ke Zebra-zebra itu melalui jendela mobil (nah.. inilah kegunaan wortel yang dijual itu). Kadang, kita ngeliat binatang-binatang yang kita gak tahu namanya (meskipun (lagi) udah ada peta). Kita ngelewatin kawanan jerapah, rusa, gajah, kuda nil…

Paling menegangkan, tentunya ketika melewati kawasan binatang buas, seperti singa, macan dan harimau. Untuk kawasan ini, ada pintu tersendiri yang otomatis dibuka dan ditutup, terpisah dari hewan-hewan yang lain. Kita ngeliat singa, harimau, macan yang sedang bermalas-malasan. Untungnya lagi gak ada yang melintas di tengah jalan.

Paling lucu pas lewat di daerah orang utan. Kaya’nya gayanya sok banget… sok cool… hehehe…

Setelah memutari area hewan-hewan itu, kita keluar menuju area lainnya. Di sini kita bisa ngeliat berbagai atraksi, ada food court juga, ada arena baby zoo dan macem-macem.


Gue paling seneng waktu masuk ke taman burung. Suaranya rame banget… saling berkicau sahut-sahutan… udah gitu, burung-burungnya juga berwarna-warni dan cantik-cantik. Sebelum masuk dan keluar arena taman burung, pengujung harus cuci tangan dengan sabun antiseptik dan membersihkan alas kaki di keset yang tersedia. Mungkin untuk jaga-jaga biar gak kena flu burung kali ya.

Keluar dari taman burung, ngeliat lagi hewan-hewan yang gak dikandangin. Sempet pengen foto sama baby orang utan… tapi pas dia lagi bergelantungan di badan petugasnya… dia abis ‘pup’… males juga kan… kalo foto sama baby harimau atau macan… gue gak mau… biar katanya ‘baby’… tetap aja badannya besar dan serem…

Lalu, kita keliling lagi… di sana ada berbagai arena permainan. Sempet makan dulu di food court… makan fried chicken aja sih… lalu kita lanjut… pengen naik kereta gantung… tapi, gak dulu deh… mahal juga ternyata, 30 ribu satu orang. Kita lebih milih untuk jalan kaki lagi… menuju ke tempat berbagai harimau dan macan ‘dipajang’ di dalam kaca. Tapi, mungkin lagi waktunya mereka tidur siang.. jadi mereka pada bertengger di atas dahan, atau tidur di dalam gua.

Lalu, jalan lagi melewati kandang buaya… gue kira yang ada di sana patung buaya. Abis para buaya itu, anteng banget.. gak bergerak. Gue gak akan tahu itu beneran kalo gak liat perutnya yang bergerak-gerak karena membuktikan memang sedang bernapas.

Yang rame lagi adalah ketika lewat kawanan orang utan. Hehehe.. mereka bergelantungan di tali… berayun-ayun dari tali satu ke tali lain, dan rame banget saling bersahut-sahutan.

Yang lainnya yang kita liat adalah kelompok hewan reptile… berbagai macam jenis ular. Gue gak suka bagian ini, karena gue gak suka ular. Udah gitu, ada satu ular yang lagi makan ayam… Duh, males banget liatnya…

Di sebelah kelompok reptile ada kelompok hewan yang hidup di malam hari. Jadi tempatnya gelappp banget… ada kelelawar tentunya.. Di sini gue juga gak suka, karena tempatnya yang gelap…

Yang nyebelin waktu lewat di daerah komodo. Di situ ada papan yang bilang, kalo komodo itu adalah pemakan daging… dan ada bisa juga makan manusia. Kita emang ngeliat para komodo sedang bermalas-malasan. Tiba-tiba, pas lagi foto-foto, ada petugas yang lewat dan bilang, “Mau saya fotoin sama komodo, mbak? Masuk aja ke kandangnya, gak pa-pa, baru pada abis makan, koq.” Enak aja si bapak itu ngomong…!!!

Pengennya kita terus jalan kaki sampe ke air terjun, yang emang letaknya masih sekitar 1 kilo lagi dari tempat kita liat komodo itu. Berhubung mau hujan, buru-buru kita balik ke tempat parkir (dan gila… ternyata kita udah jalan jauh banget). Kita memutuskan untuk menuju ke sana dengan mobil.

Tapi, hujan ternyata turun lebat banget. Tujuan kita ke air mancur, karena di dekat sana, ada “Cowboy CafĂ©’, tempat atraksi Wild Wild West. Sementara nunggu jam 1 siang, pas pertunjukan mulai, kita nunggu di mobil sambil nunggu hujan reda.

Jam 1 kurang 15, kita turun dari mobil. Hujan belum juga reda. Kita ikut antrian di depan pintu, menunggu pertunjukan Wild Wild West dimulai.


Jam 1 pintu masuk dimulai. Di dalamnya banyak tempat duduk (yang katanya, berkapasitas 2500 orang, kalo dempet-dempet kali ya…). Ada peringatan untuk tidak merekam pertunjukan dengan handycam atau pun pake handphone (padahal niat gue begitu…). Tapi, foto-foto tetap boleh. Arena pertunjukkan berupa lapangan dengan latar rumah-rumah a la jaman cowboy dulu deh. Ada saloon, ada bank, ada penjara, ada casino bar, ada tiang gantungan, ada sumur.

Tadinya, kita duduk paling depan. Tapi, ada yang bilang, air-air di dalam gentong dan sumur akan menyembur, makanya kita pindah ke baris nomer 2, letak yang cukup strategis.

Lalu, dimulailah cerita. Alkisah, di kota Tombstone, hiduplah dengan damai berdampingan antara para orang-orang barat dan orang Indian. Tapi, semua itu dikacaukan dengan sekelompok perampok yang bikin onar, yang mau menculik puteri dari suku Indian. Di sinilah cerita dimulai.

Sebenernya sih, ya, inti ceritanya hanya itu. Ada adegan tembak-tembakan antara kelompok perampok dan sheriff (yang.. pssttt… cakep juga). Ada lagi, pembantu sheriff yang sengaja dibikin jadi tokoh yang sering jadi bulan-bulanan alias konyol banget. Cukup menghibur. Yang keren, emang ‘special effect’ yang digembar-gemborkan di brosur, yaitu, adegan pas perampok membakar bank atau ledakan di penjara. Emang pake ‘mercon’ beneran. Lalu, yang konyol lagi, salah satu perampok ada yang takut sama tikus. Gak sengaja dia megang tikus, dan kemudian dengan sengaja dilempar ke arah penonton yang langsung teriak-teriak.

Yang seru lagi, waktu ada mercon yang dicemplungin ke sumur, pas mercon itu meledak, muncratlah air dari sumur… Gue dan suami yang duduk pas di depan sumur, ikut kecipratan air lumayan banyak. Tapi, itulah bagian-bagian yang membuat penonton bereaksi.

Pertunjukkan itu cukup memuaskan penonton. Meskipun gue merasa, ada bagian-bagian yang gak pas kalo diliat sama anak-anak.

Hujan masih turun lebat pas kita keluar dari arena pertunjukan. Kunjungan ke Taman Safari berakhir di sini. Kita keluar dari kawasan Taman Safari dan pas di ujung jalan, disambut sama kemacetan yang luar biasa. Yaaa… biasa sih, kalo sore-sore, hari minggu, Puncak pastinya amat sangat macet.

Lepas dari kemacetan mungkin sekitar 1 jam. Lalu, jalan dibuka untuk satu arah aja yang turun. Di jalan tol, suami gue bilang, “Ke sentul city yuk.” Ya.. boleh lah…

Ternyata masuk ke Sentul City itu… duh.. jauh bangettttt… perumahannya juga entah di mana ngeliatnya… Kita langsung memutuskan, gak mau beli rumah di sini… bisa semakin tua di jalan!

Perjalanan kita hari ini, diakhiri dengan makan Sate Kiloan di Pintu Keluar Tol Cibubur. Suasana masih kaya’ di Puncak. Soalnya dingin dan masih hujan rintik-rintik.

Dan, kita langsung bikin rencana untuk weekend selanjutnya…

Saturday, April 21, 2007

Antara 'Susu Putih' dan 'Es Krim Vanilla'

Suami gue beliin gue susu... tapi, susu putih... Gue 'eneg' banget kalo udah harus minum susu putih. Satu-satunya 'flavour' susu yang gue suka hanyalah rasa cokelat. Tapi, suami gue bilang, "Susu cokelat gak alami." Duhhh.... ya, sudah... terpaksa gue menghabiskan satu kotak susu bubuk...

Dan, setiap gue minum segelas susu putih itu, setiap teguk, harus gue selang-selingi dengan makan sesuatu... entah biskuit atau roti. Gak tau ya... mencium baunya aja gue udah mual... apalagi, harus sambil minum... hueekkkk... Mama gue bilang, "Ya minumnya jangan sambil dirasa-rasa." Haduh... gimana gak dirasain ya??

Tapi, anehnya, kalo makan es krim... vanilla adalah favorit gue.... hmmm... pake siraman caramel... yummy...

Wednesday, April 18, 2007

OUT - Natsuo Kirino

out

Kemarin ke Gunung Agung, Senayan City. Sebenernya sih, gak ada yang dicari. Tapi, karena di milis dan di blog lagi heboh ngomongin buku 'OUT', gue yang tadinya gak tertarik, jadi pengen baca. Tapi, berhubung gue gak terlalu suka sama yang berbau-bau horor, apalagi horor Asia, gue jadi ragu-ragu.

Di TGA, gue udah megang-megang buku itu, tapi, memandang covernya yang bikin merinding dan deg-degan, gue pun mengurungkan niat gue untuk beli buku itu. Dalam hati, gue bilang, "Positif, gak akan beli buku ini."

Tapi, suasana hati gue yang lagi gak terlalu bagus pagi ini, membuat gue dengan mantap men-klak-klik mouse gue di inibuku.com, dan masuklah buku 'OUT' ini ke 'keranjang belanja' di inibuku.com.

Entah, gue berani apa nggak baca buku ini...

Tuesday, April 17, 2007

'Rak Buku'


Sejak nikah, buku-buku gue rada tidak terawat. Di kamar, belum ada tempat nyimpen buku gue dengan baik dan benar. Maklum, tiap mau beli rak buku, ada aja ‘hambatannya’. Yang males lah… yang lupa lah… atau udah merasa cukup nyaman dengan yang ada sekarang.

Hasilnya, gue memanfaatkan tepian jendela dan ruang kosong di sebelah tempat tidur gue. Emang harus rajin dibersihin, kalo gak, debunya itu lho… bikin kotor buku (dan yang lainnya juga sih…)

Sunday, April 15, 2007

Book signing ‘Detik-Detik yang Menentukan’

Waktu hari Jum’at malem, gue dan suami jalan-jalan ke Kinokuniya – Plaza Senayan, dan di depannya, gue liat ada papan yang isinya pengumuman acara ‘Book Signing Detik-Detik yang Menentukan’. Acaranya hari Sabtu, tanggal 14 April, jam 3 sore. Jadi, datanglah gue ke sana dengan membawa buku itu yang sebetulnya punya suami gue.

Gue sama temen gue, Echi, datang pas para petugas keamanan mulai sibuk dengan Handy Talky mereka, kasak-kusuk di mana posisi BJ. Habibie. Pas gue masuk ke kinokuniya, tempat acara itu ada di posisi pojok agak ke belakang. Dan hanya menempati ruang kecil, yang sempet bikin gue bingung, karena gak jelas di mana posisi antrinya.

Pas gue lagi bingung-bingung, lewatlah rombongan yang berjalan agak cepat, yang ternyata rombongan BJ Habibie yang didampingi istrinya plus segenap ajudan. Salah satu anaknya, Ilham, juga ada di sana.

Tanpa banyak basa-basi, BJ Habibie langsung duduk di meja yang udah disediakan, di sebelahnya duduk entah siapa (gue gak tahu, tapi looks familiar). Istrinya duduk di belakang beliau. Antrian sempat agak kacau, karena gak ada yang mengarahkan. Sementara para pasukan digital camera juga meringsek maju ke depan dengan posisi di samping para pengantri. Untung antrian gak terlalu panjang. Petugas yang mengatur, mereka kasih kesempatan untuk mengabadikan BJ Habibie yang sibuk menandatangani buku-buku itu.

Kita dikasih kertas kecil untuk nulis nama kita untuk di buku itu. Pas giliran gue, deg-deg-an juga sih… ‘Mantan orang no. 1 Indonesia, gitu lho…!. Tapi, gue rada kecewa, karena he didn’t even look on our face. Bukan apa-apa, maksud gue, selama proses penandatanganan buku-buku tersebut, Habibie hanya sibuk tanda tangan dan sesekali ngobrol sama orang di sebelahnya. Buku yang udah ditanda tangan juga dikasih lagi lewat asistennya yang sibuk mengoper-oper buku. Well… acara book signing yang gue bayangkan, gue pikir BJ Habibie akan menyempatkan sedikit say hello gitu… tapi ternyata nggak. Ya, kalo mau ngobrol sama si bapak di sebelahnya, gue yakin akan sangat banyak sesi tersendiri. Tapi, positive thinking aja deh, mungkin beliau punya acara yang amat sangat padat.

Suami gue sendiri yang datang belakangan, juga ikutan minta tanda tangan salah satu buku lama tentang BJ Habibie. Hehehe.. meski dia udah usaha untuk basa-basi dengan bilang, “Ini buku lama.” Tetap… si bapak mantan presiden itu hanya komentar ke si bapak pendamping.

Gak ada acara sesi foto bersama… hehehe.. gak mungkin lah ya… Yang ada, ‘sesi foto’ dadakan sama Adrie Subono yang kebetulan ada di sana. Maklum, si om-nya tuh yang lagi sibuk tanda tangan buku. Jadi, ada kejadian ‘norak’ plus sedikit ngeselin. Sementara gue lagi nunggu suami, gue sama Echi, ngeliat Adrie Subono lagi berdiri di pojokan. Temen gue itu bilang, “Mau gue fotoin sama Adrie Subono, gak?” Gue masih rada gengsi and males… akhirnya, dia yang memberanikan diri pasang muka untuk bilang, “Boleh foto bareng?” Si Adrie Subono, tentu saja mengiyakan dengan senyum (entah pasrah atau dipaksa ya?). Gue fotolah temen gue itu… sukses… dan gue pun akhirnya mau difoto… udah pasang senyum manis, dengan tanga Adrie Subono merangkul gue… tapi, pas gue liat hasilnya… “Haaaa… koq cuma gambar putih aja???!!!!” Entah apa yang dipenjet sama Echi, sampai hasilnya begitu… hahaha.. bukan rejeki gue untuk punya kenang-kenangan difoto sama Adrie Subono.

Lumayan banyak yang datang ke acara book signing itu. Meskipun gak ada antrian panjang. Tapi, pengunjung terus mengalir. Tapi… gak meninggalkan kesan mendalam di hati gue.

Monday, April 9, 2007

Long Weekend

Hari Jum’at (06.04.2007): Nyelesain Neverwehere, mulai baca Tiga Venus, lalu ada kumpul-kumpul sama tante-tante, om-om gue dari sebelah mama plus anak-anaknya di Bumi Wiyata, Depok

Lalu, hari Sabtu (07.04.2007): pagi-pagi gue nonton ‘Carolina’. Rencananya, pas siang, gue mau nonton sama temen-temen gue di PIM, mau nonton Nagabonar (Jadi) 2, tapi, ternyata gak jadi. Tapi, acara ke PIM tetap jadi. Gue akhirnya nonton sama suami gue. Gila, film Nagabonar (Jadi) 2 ini ternyata laris manis. Gue antri jam 4, dapet nonton yang jam 20.25. Akhirnya, kita nunggu di Gramedia. Seperti biasa, gak mungkin keluar Gramedia dengan tangan kosong. Sambil nunggu, gue baca ‘When a Man Lost a Woman’, novelnya Ita Sembiring yang baru gue beli di Gramedia itu.

Dan hari Minggu (08.04.2007): gue santai-santai di rumah. Hampir seharian nonton ‘Desperate Houswives’ – season 1. Meskipun udah pernah nonton di tv, tapi, gue emang pengen ngulang dari awal. Soalnya di tv, kalo ada yang membingungkan, gue gak bisa ‘rewind’. Nonton film berseri emang bikin penasaran. Selain itu, gue juga nonton ‘Catatan Akhir Sekolah’.