Monday, April 18, 2011

Wiken tanpa ke Mall (3): Jelajah Kota Tua bareng mommiesdaily.com

Waktu kakak gue kirim email tentang Jelajah Kota Tua bareng mommiesdaily.com ini, gue dan adek gue langsung antusias. Bukan hanya fee-nya yang murah meriah (Rp. 100ribu untuk empat orang), tapi juga karena jalan-jalan ke Jakarta Kota Tua termasuk dalam salah satu list yang pengen gue kunjungi (hehehe.. list-nya panjangggg). Tadinya gue pikir yang ikutan hanya para ‘orang tua’, jadinya seperti ‘me time’ gitu deh… kan udah lama juga gak jalan berempat aja sama kakak dan adek2 gue. Tapi, kakak gue bilang, “Ya anak-anak ikut lah, ngapain juga mommy-mommy-nya aja.” Hehehe…

Ya udah, akhirnya, ‘rombongan’ kita sendiri ada 3 kelompok. Dan, Mika juga udah gue ceritain, kalo kita bakal pergi ke museum lagi naik bus.

Pagi-pagi hari minggu, bangunin Mika susah banget. Begitu udah bangun, disuruh mandi juga susah banget. Ada aja alasannya, gue pura-pura aja mau pergi sendiri, eh, tangan gue malah dipegang, Mika bilang, “Mama temenin Mika bobo’ di sini.” Yahhh.. kalo gak mau buru-buru, mau aja gue tidur-tiduran terus sama Mika.

Kita pun berangkat dari rumah jam ½ 8 menuju FX, tempat kumpulnya. Sempat kejebak macet karena ternyata ada acara ultah-nya PKS di Istora Senayan. Banyak banget bus yang mengangkut para kader partai.

Mungkin karena kejebak macet juga, banyak peserta yang telat. Jam 9, akhirnya kita start dari FX. Cuaca panas banget. Mataharinya lagi ‘royal’. Kita dibagiin goody bag yang isinya dua box nasi bogana, (dari Merasyi Kitchen --- enak bangettttt)
, log cake dari Otaru Baumkuchen -- seperti roll tart tapi teksturnya lebih padat ; ada empat rasa: vanilla, cokelat, tiramisu dan green tea, dan kue kembang goyang Untuk anak-anak, menunya beda. Provided by bebitong, menunya macaroni schottel, bola-bola kentang dan puding. Ditambah, cokelat ayam (ini untuk mamanya aja) dan kue kecil-kecil yang di atasnya ada kembang gula warna-warni. Di bis, Mika anteng ngeliat keluar, Sengaja mau di sebelah jendela. Di dalam bis, ada guide yang cerita tentang sejarah Jakarta.

Tujuan pertama kita ke Museum Fatahillah. Wow… udah 20 tahun (???) sejak terakhir gue ke museum ini. Rasanya waktu SD atau SMP gitu. Dan, ternyata rameeeee banget. Gue gak menyangka akan seramai ini. Entah karena memang hari Minggu, atau karena sedang ‘trend’ wisata Kota Tua, yang pasti area sekitar Museum Fatahillah itu rame banget. Kita emang gak keliling museum. Tujuan utama nonton pertunjukan ‘History of Batavia’




Sembari menunggu pertunjukkannya dimulai, kita keliling museum di luarnya aja. Ngeliat meriam Jagur, patung Hermes dan penjara bawah tanah yang gelap banget. Hiiii… Eh, pas sambil duduk-duduk, Mika minta makan. Padahal, pas pertunjukkannya mulai. Untung Mika mau dibujuk untuk ‘menunda’ sebentar makan siangnya. Sebelum masuk ke dalam ruangan, kita baris dulu di depan teras. Ngeliat ada orang yang pake baju item – ketutup semua… bikin kaget. Sempet dibilangin, kalo pertujukan ini bakal banyak ‘kaget-kagetan’nya, tapi gue tetap pe-de bawa Mika masuk.

Di dalam ruangan, kita duduk lesehan mengahadap dua mural/lukisan dinding – yang ternyata dijadikan sarana untuk ‘bersandiwara’ (kreatif…. Belakangan gue tau, kalo pemainnya itu dari Teater Koma). Lukisan di dinding itu, seolah bisa ‘bergerak’ dan ‘bicara’. Canggih juga ya… (*catatan: segera liat website-nya :D). Bahkan ketika cerita banjir, di dinding seolah-olah ada air yang naik.




Mika sempet tegang, tapi gue bilang, “It’s okay, kan ada mama.” Ehhh, begitu lampu digelapin, Mika berdiri, meluk gue dan bilang. “Udah ya… udah selesai ya…” Buru-buru gue ajak Mika keluar. Akhirnya, sambil nunggu yang masih di dalem, Mika pun makan. Gue pun sempat menikmati yang namanya Es Selendang Mayang. Segerrrr banget…

Sebelum bergerak ke Museum Bank Mandiri, kita foto-foto di lapangan di depan Museum Fatahillah. Banyak banget yang jualan aksesoris, mainan , sewa sepeda, topi, ada pertunjukkan ondel-ondel dan kuda lumping. Tapi kenapa ya, koq kaya’ gak teratur, di mana aja mau jualan, ya digelarlah dagangannya. Mungkin lain kali bisa ngeliat museum lain yang ada di area itu juga. Kaya’ Museum Wayang atau Museum Seni Rupa.

Kita berjalan kaki ke Museum Bank Mandiri. Sepertinya Mika udah cape’ karena maunya digendong terus. Di perjalanan, kita ngelewatin beberapa gedung tua yang gak terawat. Di jalan itu gak boleh lewat kendaraan bermotor, tapi ya gitu deh, penuh dengan jualan yang sama seperti yang kita liat di lapangan, plus ada yang bikin tattoo dan ramal-meramal. Kenapa gak ada jualan pernak-pernik khas Betawi? Atau jajanan khas Betawi ya?

Sampai di Museum Bank Mandiri, kita makan siang dulu sambil nonton film sejarah Jakarta (dan sedikit Indonesia) tahun 1920an dan 1940an. Mika seneng banget ngeliat mobil-mobil kuno yang bentuknya lucu-lucu. “Seperti VW kodok Mika,” gitu katanya. Dan karena udah ngantuk, Mika gak ikut keliling museum, tapi langsung balik ke bis sama mama.



Di Museum Bank Mandiri kita diajak ngeliat ruangan-ruangan seperti tempat rapat direksi (konon semua yang ada dibangunan itu masih asli), ruang tempat nyimpen uang kertas dan uang logam dari masa ke masa, bahkan kamar mandi dan kamar ganti.


Dalam perjalanan pulang, ada kuis untuk anak-anak dan orang dewasa. Mika pun kebagian salah satu hadiah, dapet buku tentang helicopter. Tentu langsung dibuka dan ‘dibaca’ dengan ‘serius’. Setelah itu, Mika pun tidur, baru bangun pas sampai rumah.

2 comments:

Tjut Riana said...

wuihhhh..asyikkk banget kayaknya, wisata ke kota tua ini masih terus ada di wishlist ku, belum kesampean juga...

ferina said...

hehehe.. kemarin juga rasanya belum maksimal. pengen ke sana lagi lain kali