Thursday, March 31, 2011

Now Reading: Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @ 2011
GPU - Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Mari berandai-andai...
Jika Indra Herlambang adalah seekor burung, termasuk jenis burung apakah dia?

Djenar Maesa Ayu: Burung Cucakrowo. Kalau udah berkicau nggak bisa berhenti. Untung suaranya bagus. Indra seperti itu. Cerewet. Tapi yang diomongin tetap ada isinya. Jadi selalu enak untuk didengar.

Ersamayori: Indra itu burung Kakaktua. Soalnya keren dan merupakan salah satu burung yang paling pandai bicara. Plus, dia sudah saya anggap sebagai kakak. Dan kebetulan sudah tua. Jadi pas, kan?

Joko Anwar: Burung Merak. Soalnya dia gagah sekaligus cantik.

Raditya Dika: Menurut gue, kalo Indra Herlambang itu burung, maka dia adalah Road Runner! Entah itu burung jenis apa, tapi yang jelas kaya tulisannya Indra: Lincah, cerdas, dan kencang. Beep! Beep!

Tentu saja. Indra bukan burung. Satu-satunya kemiripan dia dengan burung adalah kegemarannya untuk berkicau. Di mana saja. Kapan saja. Baik di radio, televisi, panggung, twitter, majalah, bahkan terkadang di saat dia tidur. Buku ini mencoba mengumpulkan kicauannya. Soal gaya hidup, cinta, Jakarta, Indonesia, dan keluarga. Banyak yang serius, lebih banyak lagi yang kocak. Yang pasti selalu kacau. Karena dia selalu galau.

Monday, March 28, 2011

Weekend tanpa ke Mall (1): Taman Suropati & Museum Satria Mandala

Minggu ini, kita menjalankan program ‘weekend tanpa mall’. Dari hasil browsing di liburananak.com, akhirnya, diputuskan untuk bermain-main di Taman Suropati. Kebetulan, Darrell dan Queency lagi nginep di rumah, jadi pasti akan lebih seru kalo rame-rame. Dan bener aja, mulai dari masuk mobil, udah heboh.

Pertama kita sarapan dulu di bubur ayam di sebelah SD-nya Obama. Makan di mobil. Terus, nyari parkir dulu, karena di deket Taman Suropati gak bisa parkir. Kita malah parkir deket Taman Menteng, jadinya jalan lumayan jauh. Untuk anak-anak kecil itu lagi pada excited, jadi gak rewel diajak jalan jauh. Cuaca juga mendukung. Gak panas, dan enak buat main-main di taman.

Sampai di Taman Suropati, langsung pada ‘ngacir’. Seneng banget ngeliat air mancur, terus ngejer-ngejer burung merpati yang gendut-gendut. Kalo pada cape’ tinggal duduk di rumput. Banyak yang main sepeda, dan main bola. Mika sama Darrell nemu bola nganggur, entah punya siapa. Ya udah, dimainin aja deh sama mereka berdua.

Sebenernya, salah satu tujuan kita ke sini, pengen ngeliat orang-orang yang main biola, karena katanya ada yang namanya ‘Taman Suropati Chamber’. Tapi, ditunggu-tunggu, koq gak mulai-mulai. Meskipun emang pada berdatangan satu per satu yang bawa biola. Tapi, mereka pada asyik latihan sendiri-sendiri. Mika sempet ngedeketin satu bapak-bapak yang lagi main biola. Ya udah, karena kelamaan gak mulai-mulai, dan tampaknya udah pada bosen, kita pun bergerak dari Taman Suropati.

Baru jam 10.30, belum waktunya makan siang. Kita pun memutuskan untuk ke Museum Satria Mandala. Tentu aja, Mika langsung seneng banget waktu dikasih tau mau ke tempat yang ada pesawatnya. Karena udah sering lewat di depan Satria Mandala, tapi belum pernahmampir. Sementara Darrell yang udah pernah, langsung bilang, “Nanti Darrell kasih liat Satria Mandala ya, Kak.”

Tapi… aduh, sampai Satria Mandala, panas banget. Mama-nya mulai il-feel, tapi Mika dan Darrell tetap heboh. Langsung lari-lari muterin pesawat satu-satu. Anak dua ini, pada susah-susah banget mau difoto. Sering hasilnya, hanya tampak belakang kepala-kepala ‘gundul’. Soalnya susah banget disuruh diem sebentar aja.

Abis liat pesawat yang di depan, liat pesawat-pesawat yang di belakang. Mika lari-lari sendiri ngeliat pesawat satu per satu. Dan seneng banget waktu ngeliat helicopter dan pesawat ‘yang ada giginya’, “Seperti di buku,” kata Mika. Karena panas, jadi gak lama-lama di sini.

Lagipula udah waktunya makan. Di mobil, Mika udah ngantuk dan bolak-balik minta susu. Akhirnya, kita makan di Mie Ceker di Barito. Ternyata, biar udah cape’, di Mie Ceker ini, Mika dan Darrell juga sibuk sendiri. Udah berasa kaya’ di rumah aja. Mindah-mindahin kursi, ngoceh-ngoceh. Untung gak terlalu rame, tapi gue jadi gak ‘konsen’ makannya. Makan siang ditutup dengan dessert Caramelized Cashew nut ice cream yang manis banget.

Dalam perjalanan pulang, semua pada teler. Tapi… tetap aja, malemnya pada main dengan heboh lagi…

Wednesday, March 23, 2011

Now Reading: Five Quarters of the Orange

Five Quarters of the Orange
Joanne Harris @ 2001
Perenial - 2002
304 pages

In her bestselling and critically acclaimed novel Chocolat, Joanne Harris told a lush story of the conflicts between pleasures and repression. Now she delivers her most complex and sophisticated work yet, an unforgettable tale of mothers and daughter, of the past and the present, of resisting and succumbing – an extraordinary work of fiction limned with darkness and fierce joy.

When Framboise Simon returns to a small village on the banks of the Loire, the locals do not recognize her as the daughter of the infamous woman they hold responsible for a tragedy during the German occupation years ago. But the past and present are inextricably entwined, particularly in a scrapbook of recipes and memories that Framboise has inherited from her mother. And soon Framboise will relize that the journal also contains the key to the tragedy and indelibly marked that summer of her ninth year…


Tuesday, March 22, 2011

What my little boy said...

via We Heart It

"Mika mau jadi pilot. Mau 'penjet-penjet' di dalem pesawat."

"Mika mau ajak mama ke Surabaya... terus ke Singapur."


Monday, March 21, 2011

About Books

via We Heart It

Akhir-akhir ini, gue merasa ada perubahan dalam pilihan buku-buku yang gue baca. Rasanya koq jadi lebih 'serius' ya. Gue gak terlalu tertarik lagi sama tipe-tipe chicklit. Kalo gue lagi pengen baca yang santai, gue tinggal pinjem sama adek gue. Tapi untuk beli sendiri, rasanya gak lagi deh.

Gue jadi lebih tertarik dengan model drama. Tapi bukan melulu yang isinya tentang percintaan, tapi dengan latar belakang yang lebih 'kompleks', yang lebih 'dalem'. Bahkan, (hehehe.. ini yang kadang gue malah surprise sendiri), gue jadi lebih 'sabar', meskipun buku yang lagi gue baca beralur cerita sangat lambat dan cenderung membosankan. Tapi, dari lambatnya cerita itu, gue malah jadi makin penasaran, untuk tau apa isi cerita dan ending buku itu.

Genre fantasi juga gak terlalu menarik perhatian gue lagi. Gue mungkin udah terlalu 'terpaku' sama Harry Potter, jadinya meskipun ada buku fantasy lainnya, gak terlalu membuat gue excited lagi. Thriller... juga udah jadi pilihan ke sekian. Model-model detektif juga gak terlalu jadi pilihan gue. Hehehe.. udah tua, gak baik deg-degan kalo lagi baca.

Meskipun gue punya 'target' berapa banyak buku yang pengen gue baca, tapi tahun ini, gue gak terlalu mengejar target itu. Lagian, ngapain juga gue kejar? Hehehe.. toh, gue juga gak dapet 'bonus' kalo mencapai target.. hihihi...

Lagi pula, makin lama gue merasa, waktu gue untuk membaca semakin sedikit. Biasanya gue baca di mobil, pas berangkat ke kantor. Kalo bukunya gak terlalu tebel dan menarik, dalam sekali perjalanan bisa langsung abis. Kalo di rumah, pulang kantor, selain udah ngantuk, gue nemenin Mika main dulu. Pengennya sih, kalo Mika udah tidur, gue baca sebentar. Ehhh.. sambil nungguin Mika tidur, gue pun ketiduran. Makanya, akhir-akhir ini, satu buku bisa lama banget baru selesai bacanya.

Mungkin memang gini harusnya baca, pelan-pelan, gak usah buru-buru mau selesai, biar ngerti banget apa isinya (hehehe.. ke mana aja sih gue selama ini?) Dan jangan-jangan, ini juga bawaan umur yang makin nambah, jadinya gue juga bisa makin sabar dan lebih selektif milih buku.



My Weekend

via bloom

Setelah sebulan gak ke PIM, hari Sabtu kemarin akhirnya jalan-jalan ke PIM lagi. Hehehe.. bukan apa-apa, kalo gak ada perlu, rasanya males juga ke mall. Cape' aja mondar-mandir keliling mall tapi gak ada tujuan. Kebetulan mau cari kado untuk Nasywan, jadilah kita ke PIM.

Sabtu pagi dimulai dengan ‘membongkar’ celengan Mika. Karena udah penuh, gak bisa diisi lagi dan gue belum bawa yang baru lagi, akhirnya Mika membongkar celengan pertamanya. Dan, begitu liat koin-koin bertebaran, Mika bilang, “Mau beli mobil yang besar sama yang kecil, banyak-banyak.” Hehehe… ternyata, setelah diitung-itung, dapetnya lumayan juga. Tapi, biasa deh, Mika… begitu kita mau ngitung, koin-koinnya diacak-acak lagi. Terpaksa, ngitungnya ngumpet-ngumpet, gue yang pilihin koinnya, terutama yang 500an sama 1,000an. Biar Mika juga gak bingung ke mana ‘ilangnya’ isi celengannya, sengaja yang 100an sama 200an ditinggalin dulu.

Di jalan, Mika lagi seneng bacain huruf-huruf dan angka-angka. Di parkiran, dia sibuk ‘menghafal’ tempat parkir mobil. Masuk ke PIM, ada kereta lewat, langsung seneng banget. Gue bilang, “Nanti ya, naik keretanya, Mika makan dulu.” Tapi, Mika tetap ngacir, jalan ngikutin kereta. Untungnya Mika gak maksa pengen naik kereta saat itu juga. Tapi, tetap aja, makannya gak konsentrasi, gara-gara ngeliat anak-anak kecil lain pada main-main. Jadinya, hanya beberapa suap, tapi Mika pun main di playground depan Hoka Hoka Bento.

Abis itu, nyari kado Nasywan, sekalian mau ‘belanjain’ uang tabungan Mika. Dapet deh, tractor Caterpillar. Gue hanya ‘nombok’ sedikit. Hehehe… Setelah nyari mainan, Mika mulai cape’. Dia ‘manjat’ sendiri ke stroller-nya dan minta susu. Gak lama, tidur sendiri deh.

Ke Gramedia sama Periplus. Tapi lagi gak mood beli buku. Di gramedia juga gak ada yang menarik perhatian gue, akhirnya gue hanya beli National Geographic Kids – yang kebetulan lagi promo untuk edisi lama.

Di Periplus, ada beberapa buku yang masuk daftar pengen dibaca (tentunya dibeli dulu.. hehehe): My Name is Memory, Fang – James Patterson, sama ada beberapa lagi yang koq gue lupa judulnya.. (harus dicatet lain kali…)

Setelah muter-muter gak jelas, mulai cape’, siap-siap pulang. Ehhh.. Mika main dulu lagi. Gue bilang, “Mika, kita pulang dulu ya. Kan mau main tractor barunya di rumah.” Dan, Mika langsung nurut, meskipun pas denger suara kereta api, sempet ‘ragu-ragu’ sedikit, Mika bilang, “Tuh, ada suara kereta api.”

Di jalan, ternyata papa iseng pengen mampir ke Legenda Wisata. Jadilah kita di sana sampai malem. Hujan deras. Rencananya mau liat ‘super moon’ gak jadi. Padahal Mika sama Darrell udah heboh, berdua manggil-manggil, “Super moooon… Super bulannnn….!”

Sampai rumah, udah cape’ banget. Dan malemnya tidur cepet. Gak pake baca buku yang banyak-banyak dulu… 

Hari Minggu, di rumah aja. Mika bolak-balik nonton ‘Mater’s Tall Tales’, main tractor barunya di kamar, ‘ngobrol’ sama mobil-mobilnya. Gue nemenin Mika main di kamar sambil baca buku, ada kalanya Mika ‘seolah’ pengen gue ikut main juga. Jadi dia deketin gue, ngasih buku ke gue, “Mama tolong bacain.” Atau dia pura-pura jatuh, terus bilang, “Mama… Mika jatuh. Tolong angkatin Mika.” Yang lebih ‘heboh’ lagi, dia lari-lari sendiri di kamar, dan gak lama bilang, “Mama, kejer-kejer Mika.” Haiii ya… gue pun lari-lari kecil, ngejerin Mika yang minta ditangkep.

Malemnya, kembali baca buku yang ‘banyak-banyak’ sebelum tidur.