Wednesday, April 6, 2011

Now Reading: Kaitlyn

Kaitlyn
Kevin Lewis @ 2006
Penguin – 2006
499 pages

The Wilson family was torn apart the night little Christopher was almost killed. Though the two year-old survives the brutal attack by his drunken father, his older sister Kaitlyn is convinced it's all her fault. Christopher is taken into care and never returns to the family home on the notorious Roxford estate in South London. But the bond between the siblings remains strong, and as Kaitlyn gets older she dreams of a new life away from the violence of the estate and her mother's dangerous addictions. But most of all, she dreams of being reunited with her little brother.

Will Kaitlyn's dreams ever come true?

And if they do, could they really turn into a nightmare?

"Kaitlyn" is the heart-rending story of a family ripped apart by tragedy and reunited by a twist of fate that threatens to destroy all their lives and of a girl who has to choose between everything she has worked for, and the only family she has every known.

Monday, April 4, 2011

What my little boy said ...



Mika: S itu Lion
Gue: Bukan, kalo Lion itu L
Mika (ngotot): Bukan… S itu Lion

-- Mika bongkar-bongkar rak buku --

Mika: coba, kita liat dibuku ABC dulu ya..
Gue: *senyum-senyum aja, sambil lanjut baca Mini Shopaholic*

Mika: tuh, kan, S itu Lion
(Ternyata ada gambar Singanya)

Gue: Oooo, kalo S itu Singa. Bahasa Inggrisnya Lion. Lion itu L

Mika (keukeuh): Lion itu S
Gue: Oke.. deh… (case closed untuk sementara)

Thursday, March 31, 2011

Now Reading: Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @ 2011
GPU - Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Mari berandai-andai...
Jika Indra Herlambang adalah seekor burung, termasuk jenis burung apakah dia?

Djenar Maesa Ayu: Burung Cucakrowo. Kalau udah berkicau nggak bisa berhenti. Untung suaranya bagus. Indra seperti itu. Cerewet. Tapi yang diomongin tetap ada isinya. Jadi selalu enak untuk didengar.

Ersamayori: Indra itu burung Kakaktua. Soalnya keren dan merupakan salah satu burung yang paling pandai bicara. Plus, dia sudah saya anggap sebagai kakak. Dan kebetulan sudah tua. Jadi pas, kan?

Joko Anwar: Burung Merak. Soalnya dia gagah sekaligus cantik.

Raditya Dika: Menurut gue, kalo Indra Herlambang itu burung, maka dia adalah Road Runner! Entah itu burung jenis apa, tapi yang jelas kaya tulisannya Indra: Lincah, cerdas, dan kencang. Beep! Beep!

Tentu saja. Indra bukan burung. Satu-satunya kemiripan dia dengan burung adalah kegemarannya untuk berkicau. Di mana saja. Kapan saja. Baik di radio, televisi, panggung, twitter, majalah, bahkan terkadang di saat dia tidur. Buku ini mencoba mengumpulkan kicauannya. Soal gaya hidup, cinta, Jakarta, Indonesia, dan keluarga. Banyak yang serius, lebih banyak lagi yang kocak. Yang pasti selalu kacau. Karena dia selalu galau.

Monday, March 28, 2011

Weekend tanpa ke Mall (1): Taman Suropati & Museum Satria Mandala

Minggu ini, kita menjalankan program ‘weekend tanpa mall’. Dari hasil browsing di liburananak.com, akhirnya, diputuskan untuk bermain-main di Taman Suropati. Kebetulan, Darrell dan Queency lagi nginep di rumah, jadi pasti akan lebih seru kalo rame-rame. Dan bener aja, mulai dari masuk mobil, udah heboh.

Pertama kita sarapan dulu di bubur ayam di sebelah SD-nya Obama. Makan di mobil. Terus, nyari parkir dulu, karena di deket Taman Suropati gak bisa parkir. Kita malah parkir deket Taman Menteng, jadinya jalan lumayan jauh. Untuk anak-anak kecil itu lagi pada excited, jadi gak rewel diajak jalan jauh. Cuaca juga mendukung. Gak panas, dan enak buat main-main di taman.

Sampai di Taman Suropati, langsung pada ‘ngacir’. Seneng banget ngeliat air mancur, terus ngejer-ngejer burung merpati yang gendut-gendut. Kalo pada cape’ tinggal duduk di rumput. Banyak yang main sepeda, dan main bola. Mika sama Darrell nemu bola nganggur, entah punya siapa. Ya udah, dimainin aja deh sama mereka berdua.

Sebenernya, salah satu tujuan kita ke sini, pengen ngeliat orang-orang yang main biola, karena katanya ada yang namanya ‘Taman Suropati Chamber’. Tapi, ditunggu-tunggu, koq gak mulai-mulai. Meskipun emang pada berdatangan satu per satu yang bawa biola. Tapi, mereka pada asyik latihan sendiri-sendiri. Mika sempet ngedeketin satu bapak-bapak yang lagi main biola. Ya udah, karena kelamaan gak mulai-mulai, dan tampaknya udah pada bosen, kita pun bergerak dari Taman Suropati.

Baru jam 10.30, belum waktunya makan siang. Kita pun memutuskan untuk ke Museum Satria Mandala. Tentu aja, Mika langsung seneng banget waktu dikasih tau mau ke tempat yang ada pesawatnya. Karena udah sering lewat di depan Satria Mandala, tapi belum pernahmampir. Sementara Darrell yang udah pernah, langsung bilang, “Nanti Darrell kasih liat Satria Mandala ya, Kak.”

Tapi… aduh, sampai Satria Mandala, panas banget. Mama-nya mulai il-feel, tapi Mika dan Darrell tetap heboh. Langsung lari-lari muterin pesawat satu-satu. Anak dua ini, pada susah-susah banget mau difoto. Sering hasilnya, hanya tampak belakang kepala-kepala ‘gundul’. Soalnya susah banget disuruh diem sebentar aja.

Abis liat pesawat yang di depan, liat pesawat-pesawat yang di belakang. Mika lari-lari sendiri ngeliat pesawat satu per satu. Dan seneng banget waktu ngeliat helicopter dan pesawat ‘yang ada giginya’, “Seperti di buku,” kata Mika. Karena panas, jadi gak lama-lama di sini.

Lagipula udah waktunya makan. Di mobil, Mika udah ngantuk dan bolak-balik minta susu. Akhirnya, kita makan di Mie Ceker di Barito. Ternyata, biar udah cape’, di Mie Ceker ini, Mika dan Darrell juga sibuk sendiri. Udah berasa kaya’ di rumah aja. Mindah-mindahin kursi, ngoceh-ngoceh. Untung gak terlalu rame, tapi gue jadi gak ‘konsen’ makannya. Makan siang ditutup dengan dessert Caramelized Cashew nut ice cream yang manis banget.

Dalam perjalanan pulang, semua pada teler. Tapi… tetap aja, malemnya pada main dengan heboh lagi…

Wednesday, March 23, 2011

Now Reading: Five Quarters of the Orange

Five Quarters of the Orange
Joanne Harris @ 2001
Perenial - 2002
304 pages

In her bestselling and critically acclaimed novel Chocolat, Joanne Harris told a lush story of the conflicts between pleasures and repression. Now she delivers her most complex and sophisticated work yet, an unforgettable tale of mothers and daughter, of the past and the present, of resisting and succumbing – an extraordinary work of fiction limned with darkness and fierce joy.

When Framboise Simon returns to a small village on the banks of the Loire, the locals do not recognize her as the daughter of the infamous woman they hold responsible for a tragedy during the German occupation years ago. But the past and present are inextricably entwined, particularly in a scrapbook of recipes and memories that Framboise has inherited from her mother. And soon Framboise will relize that the journal also contains the key to the tragedy and indelibly marked that summer of her ninth year…


Tuesday, March 22, 2011

What my little boy said...

via We Heart It

"Mika mau jadi pilot. Mau 'penjet-penjet' di dalem pesawat."

"Mika mau ajak mama ke Surabaya... terus ke Singapur."


Monday, March 21, 2011

About Books

via We Heart It

Akhir-akhir ini, gue merasa ada perubahan dalam pilihan buku-buku yang gue baca. Rasanya koq jadi lebih 'serius' ya. Gue gak terlalu tertarik lagi sama tipe-tipe chicklit. Kalo gue lagi pengen baca yang santai, gue tinggal pinjem sama adek gue. Tapi untuk beli sendiri, rasanya gak lagi deh.

Gue jadi lebih tertarik dengan model drama. Tapi bukan melulu yang isinya tentang percintaan, tapi dengan latar belakang yang lebih 'kompleks', yang lebih 'dalem'. Bahkan, (hehehe.. ini yang kadang gue malah surprise sendiri), gue jadi lebih 'sabar', meskipun buku yang lagi gue baca beralur cerita sangat lambat dan cenderung membosankan. Tapi, dari lambatnya cerita itu, gue malah jadi makin penasaran, untuk tau apa isi cerita dan ending buku itu.

Genre fantasi juga gak terlalu menarik perhatian gue lagi. Gue mungkin udah terlalu 'terpaku' sama Harry Potter, jadinya meskipun ada buku fantasy lainnya, gak terlalu membuat gue excited lagi. Thriller... juga udah jadi pilihan ke sekian. Model-model detektif juga gak terlalu jadi pilihan gue. Hehehe.. udah tua, gak baik deg-degan kalo lagi baca.

Meskipun gue punya 'target' berapa banyak buku yang pengen gue baca, tapi tahun ini, gue gak terlalu mengejar target itu. Lagian, ngapain juga gue kejar? Hehehe.. toh, gue juga gak dapet 'bonus' kalo mencapai target.. hihihi...

Lagi pula, makin lama gue merasa, waktu gue untuk membaca semakin sedikit. Biasanya gue baca di mobil, pas berangkat ke kantor. Kalo bukunya gak terlalu tebel dan menarik, dalam sekali perjalanan bisa langsung abis. Kalo di rumah, pulang kantor, selain udah ngantuk, gue nemenin Mika main dulu. Pengennya sih, kalo Mika udah tidur, gue baca sebentar. Ehhh.. sambil nungguin Mika tidur, gue pun ketiduran. Makanya, akhir-akhir ini, satu buku bisa lama banget baru selesai bacanya.

Mungkin memang gini harusnya baca, pelan-pelan, gak usah buru-buru mau selesai, biar ngerti banget apa isinya (hehehe.. ke mana aja sih gue selama ini?) Dan jangan-jangan, ini juga bawaan umur yang makin nambah, jadinya gue juga bisa makin sabar dan lebih selektif milih buku.