via tinywhitedaisiesTuesday, October 4, 2011
Monday, October 3, 2011
Now Reading: Anne of Rainbow Valley
Anne of Rainbow ValleyLucy M. Montgomery
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita - Cet. I, Juni 2011
428 hal.
“… Anne sayang, dari sinar matamu, aku merasa bahwa kedewasaanmu kau kenakan bagaikan pakaian, dan kau ingin sekali melakukan sesuatu yang liar dan berjiwa muda lagi .…”
Anne tak menyangka bahwa akhirnya dia bisa mencintai Ingleside sebesar cintanya pada rumah impian. Dia tersadar, bahwa rumah ada di hati, bukan hanya secara fisik. Ingleside adalah tempat Anne dan Gilbert membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang dan cinta. Anak-anak yang mewarisi sifat ibunya; Jem yang berjiwa petualang, Nan dan Di yang ceria, dan Walter yang penuh mimpi.
Anne tak peduli meskipun kebanyakan penduduk Glen mengkritik Anne yang membiarkan Walter menulis puisi, Jem yang ingin jadi tentara, dan Nan serta Di yang tomboi. Dia membiarkan anak-anaknya menjelajahi Lembah Pelangi, tempat semua keajaiban terjadi. Setiap hari, anak-anak pulang dengan cerita seru dan baru, suka dan duka. Anne hanya tersenyum setiap kali Miss Cornelia tergopoh-gopoh mengadukan kenakalan anak-anaknya. Menari di pemakaman Methodis, berteman dengan anak-anak nelayan kumuh, Walter yang berkelahi karena diejek banci, atau balapan naik babi yang menghebohkan seluruh St. Glen Mary.
Setiap hari, Anne mendengarkan kisah-kisah seru anak-anak, tertawa bersama mereka dan menghibur mereka kala sedih. Karena Anne tahu, tugasnya sebagai seorang ibu adalah mengantarkan anak-anaknya ke gerbang masa depan.
'mampet'
Pengen banget bisa nulis-nulis lagi. Dulu rasanya, lagi bosen-bosen di kantor, eh, bisa bikin cerpen. Yah, bukan berarti gue jago nulis sih... tapi adalah yang jadi cerita gitu. Malah kan pernah masuk majalah, meskipun cuma dua kali :) Tapi.. hei.. itu prestasi buat gue. Kaya'nya gara-gara game di facebook nih yang ikut ambil bagian jadi 'racun' di otak gue, makanya kalo bosen, otak gue langsung lari ke game.
Pernah pengen mulai lagi. Baru satu-dua kalimat.. yah, mentok... mau disambungin apa ya?? Paling-paling sekarang, urusan tulis-menulis hanya sebatas bikin 'review' buku. Suka iri liat temen-temen lain bikin review yang panjang dan lengkap. Canggih banget...
Pengen ikutan @fiksimini, cuma suka gak pe-de... malu... Gini nih.. pengen 'eksis', tapi suka malu :)
Nah kan.. isi posting-an ini aja gak jelas... :D
Pernah pengen mulai lagi. Baru satu-dua kalimat.. yah, mentok... mau disambungin apa ya?? Paling-paling sekarang, urusan tulis-menulis hanya sebatas bikin 'review' buku. Suka iri liat temen-temen lain bikin review yang panjang dan lengkap. Canggih banget...
Pengen ikutan @fiksimini, cuma suka gak pe-de... malu... Gini nih.. pengen 'eksis', tapi suka malu :)
Nah kan.. isi posting-an ini aja gak jelas... :D
Monday, September 19, 2011
Now Reading: The Song Reader
The Song Reader (Sang Pembaca Lagu)Lisa Tucker @2011
Pepi Smith (Terj.)
GPU - September 2011
424 hal.
Mary Beth memiliki bakat istimewa. Ia adalah pembaca lagu. Mary Beth tidak meramal tangan atau kartu tarot, ia membaca rahasia-rahasia dan keinginan-keinginan terpendam seseorang berdasarkan lagu-lagu yang terus terngiang di benak mereka. Adik Mary Beth, Leeaan, dan seluruh warga kota tempat tinggal mereka, mengidolakan wanita itu. Segala prediksi dan saran yang disampaikan Mary Beth memang selalu terbukti benar. Rasanya seolah ia dapat melihat jauh ke dalam lubuk hati.
Namun, setiap bakat ternyata punya harga tersendiri. Ketika salah satu nasihat Mary Beth pada seorang klien menjadi bumerang dan menggiring mereka pada tragedi besar yang memecah belah kota itu, masa lalu tersingkap dan kebenaran menampakkan wujudnya.
...
via tinywhitedaisiesTerserang virus malas menulis. Blog ini jadi 'vakum' setelah sekian lama. Foto-foto lebaran belum di-upload. Nulis cerita sehari-hari juga lagi males. Biasa deh... bukan yang pertama kali, blog ini 'terbengkalai'.
Moga-moga, besok-besok rajin lagi :)
Friday, July 29, 2011
Ramadhan
Udah Ramadhan lagi
Semoga puasa tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya
Ini do'a setiap tahun
Semoga dalam bulan puasa ini, bisa mendapatkan lebih banyak pencerahan
Yang Insya Allah membawa kebaikan untuk gue
Amin...
Wednesday, July 20, 2011
Hari Pertama Mika Sekolah
Karena gue lagi rada malas, akhirnya cerita ini baru gue posting sekarang.
11 Juli 2011 – hari pertama Mika sekolah ‘beneran’. Terus terang gue yang deg-degan. Setiap malem, beberapa hari sebelum Hari H, gue bilang ke Mika, “Sebentar lagi Mika sekolah ya. Yang pinter ya, sayang. Kalo mau pipis, Mika bilang sama bu guru.” Mika jawab, “Iya.” Atau hanya angguk-angguk.
Pagi-pagi, pas gue bangunin, gue bilang, “bangun yuk… kan Mika mau sekolah.” Yahhh… Mika-nya masih ngantuk.. masih ngulet-ngulet, meluk guling dan bilang, “Sekolahnya besok aja.” Tapi begitu bangun, dan ngeliat tas sekolahnya, belum mandi pun, tas sekolah itu udah dibawa-bawa. Mika masih pengen main sepeda pagi-pagi seperti biasa, tapi gue bilang, “Sebentar aja, nanti sekolahnya terlambat.”
Setelah beres, Mika lengkap dengan seragamnya yang kebesaran. Hehehe… tapi dia semangat banget dan jadi gak mau sarapan dulu. Langsung keluar, narik tasnya. Karena gak ada yang nganter, Mika dan gue naik angkot ke sekolah. Jalanan rada macet, di angkot Mika diem aja.
Sampai sekolah, Mika disambut sama gurunya. Dan gue ‘lepas’ Mika untuk ikut sama bu gurunya. Gue liatin aja dari jauh. Mika sih nurut, diem dan gak nangis. Ditanya namanya siapa, Mika juga langsung jawab. Pas upacara penyambutan, Mika dan teman-teman barunya di Kelompok Bermain juga ikutan. Mungkin karena belum terlalu ‘ngeh’, Mika pun diem aja. Ada acara pelepasan balon. Ehhh.. pas balonnya lepas, Mika malah nangis.
Setelah upacara, masuk ke kelas. Mungkin karena hari pertama, orang tua yang nganter boleh masuk kelas. Tapi, di dalam kelas pun, gue hanya ngeliatin Mika. Paling kalo dia agak bingung dan gurunya lagi sibuk sama yang,lain, baru gue deketin Mika.
Begitu liat mobil-mobilan, Mika langsung main ‘parkir mobil’ seperti di rumah. Cuma bedanya, kalo di rumah, sambil parkir, Mika cerita mobilnya lagi ngapain, di sekolah dia diem aja. Waktunya makan, antri di depan kamar mandi untuk cuci tangan. Terus makan rame-rame di kelas.
Abis itu, main lagi, dan sebelum pulang diajak jalan-jalan keliling sekolah. Gue biarin Mika bareng guru dan temen-temennya. Gue tunggu di bawah aja.
Begitu pulang, dijemput neneknya, Mika kembali ceria di mobil. Cerita sedikit soal sekolahnya. Moga-moga aja, besok-besok Mika udah mulai bisa menikmat hari-harinya di sekolah
Setelah 5 kali sekolah, (Mika sekolah 3 kali atau 2 kali seminggu – selang-seling), Mika sih gak rewel. Gak nangis harus ditungguin di kelas, tapi, masih suka main sendiri, belum gabung dengan temen-temennya. Masih tetap sibuk dengan mainan mobil-mobilan, padahal gurunya lagi ngajak nyanyi. Waktu gue bilang, “Kalo di sekolah bu guru ajak nyanyi, Mika ikut nyanyi ya.” Eh, dia bales, “Waktu di sekolah bu guru lagi nyanyi, temen mika ada yang duduk juga. Gak ikut nyanyi.”
Di rumah kadang cerita, katanya di kelas ada temennya yang nangis. Terus, cerita dapet ‘souvenir’ setiap selesai sekolah.
Kalo ditanya seneng apa gak di sekolah, Mika bilang, “Seneng… di sekolah asyik.”
Subscribe to:
Posts (Atom)



