Wednesday, April 11, 2012

While we were watching American Idol...


Iseng-iseng gue tanya Mika:

Gue: Kakak-kakaknya bagus-bagus ya, nyanyinya. Pinter-pinter.

Mika: Gak  ah... gak bagus

Gue: Lho... yang bagus gimana dong?

Mika: Bagusan Mama aja yang nyanyi...

Wooohooo.... hehehe.. biarin... biar gak ada yang pernah muji suara gue, pujian dari Mika adalah yang paling kereennn.... *muach..muach...*

Thursday, April 5, 2012

Now Reading: Sunset bersama Rosie


Sunset bersama Rosie
tere-liye
Mahaka Publishing - Cet. II, Desember 2011
426 hal  

"... Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi menyesakkan terlewati lagi ..."

(hal. 1)

Monday, April 2, 2012

Hello, April


via: Bloom
Dear April, 

Please be kind to me... :)

Friday, March 9, 2012

Si Anak Bebek



Cerita ini sebenernya udah lama. Tapi, mama-nya aja nih yang suka males nulis di blog.

Jadi, di sekolah Mika, dalam rangka acara puncak tema ‘I Love Books’, ada acara pentas mini, yang ceritanya diambil dari buku yang dibaca di sekolah.

Kelas Mika kebagian cerita si Anak Bebek.. ooo pantesan aja, sebelum pentas itu, Mika sering nyanyi Potong Bebek Angsa.


Kostumnya sih simple aja, baju dan celana hitam. Ditambah aksesoris kepala, sayap dan ekor bebek.

Dan.. surprise.. surprise.. ternyata Mika jadi salah satu ‘pemeran utama’. Mika yang jadi si Anak Bebek yang lagi nyari-nyari mama bebek dan mau belajar berenang.

Gue rada kaget juga waktu denger rekaman suara Mika, “Assalamualaikum… Aku si Anak Bebek, aku sedang mencari ibuku….”



Tapi, entah kenapa, mungkin karena kaget ditonton banyak orang, di panggung Mika lebih banyak diem. Padahal kata bu gurunya, kalo lagi latihan Mika heboh banget. Di panggung, para ibu guru sibuk ngebantuin anak-anak Kelompok Bermain ini naik dan turun panggung.

Di akhir cerita, kedengeran suara Mika lagi, “Alhamdulillah, sekarang aku sudah bisa berenang.” Hihihi… lengkap dengan adegan masuk ke dalam baskom.

Tuesday, March 6, 2012

Yang sehat... dan yang gak sehat... :D



Pengennya makan yang sehat, tapi suka gak tahan dengan potato chips dan cemilan keripik-keripik-an :D

Monday, February 27, 2012

Now Reading: Anak Sejuta Bintang


Anak Sejuta Bintang
Akmal Nasery Basral
Penerbit Expose - Januari 2012
400 hal.


Memberi sesuatu yang kita senangi kepada orang lain itu selalu membuat hati kita bahagia. Rezeki kita pasti akan bertambah jika kita bisa lebih ikhlas
(Hal. 132)

Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangaan untuk menyampaikan keinginan.
(Hal. 149)


Sinopsis (dari Mizan.Com)


Di bawah siraman cahaya bintang, bocah lelaki itu mengusap wajah, menyeka air mata yang seketika menggenang di pelupuk mata. Ia teringat tatapan teman-teman sekelas, seolah serempak menghunjamkan berbagai pertanyaan. Padahal, ia sendiri tak tahu dari mana kekalahan itu bermula. Tak ada yang salah, segala hal telah dilakukan dengan saksama. Tetapi, semua itu belumlah cukup. Ia kalah justru di akhir perburuan, dipaksa nasib menerima kenyataan yang, sebelumnya, tak terbayangkan.

Di langit, lintang waluku berkeredip memamerkan cahaya yang, alangkah, cemerlang. Bocah itu telah menempuh perjalanan panjang penuh cahaya, dididik ‘sejuta bintang’ mumpuni, dan tumbuh dalam dekapan cinta ayah-ibunya. Maka, ia tak ingin tenggelam lebih lama, mesti berjuang lebih gigih, seperti harapan ‘sejuta bintang’ yang mengitari hidupnya.

Inilah novel yang berkisah tentang keriangan dan kegilaan dunia anak-anak. Diramu dari sengitnya persaingan, percikan-percikan cinta, hangat kebersamaan, dan keluguan yang menggemaskan. Tegangan mencekam dan inspirasi tak terperi membuat novel ini kaya warna. Bersiaplah menerima kejutan dan kesan yang mendalam.

Friday, February 24, 2012

Now Reading: Rumah di Seribu Ombak


Rumah di Seribu Ombak
Erwin Arnada
Gagas Media - Cet. 1, 2011
388 hal.

“Allah memberkati kita dengan keberanian. Rasa takut adalah hal yang kita ciptakan sendiri. Perasaan apa yang nanti menguasai kita adalah pilihan kita sendiri…”
(hal. 197)

Sinopsis (dari Goodreads.com):

Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.

Aku melihat lagi langit di atas Laut Lovina. Kenangan bersamamu menyerbu masuk ke ingatanku. Laut dan mimpi-mimpi kita. Apa kabar hidupmu?

Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama.

Mengapa kini kau lari menjauh?

Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu.