Tuesday, July 6, 2010

In Memoriam: AT Mahmud

Ambilkan Bulan
by AT Mahmud


Ambilkan bulan, Bu
Ambilkan bulan, Bu
Yang s'lalu bersinar
Di langit...

Di langit
Bulan benderang
Cahyanya
Sampai ke bintang

Ambilkan bulan, Bu
Untuk menemani
Tidurku yang lelap
Di malam gelap


Ini adalah salah satu lagu yang sering gue nyanyiin kalo nemenin Mika bobo'. Gue sering tanya ke Mika, "Mau mama nyanyiin lagu apa?" Mika bilang, "Lagu 'Ambilkan Bulan'". Terus, kalo gue lagi nyanyi, tangannya Mika suka gerak kiri-kanan, abis itu, dia tepuk tangan deh...

Monday, July 5, 2010

New Shanghai Circus

Nonton akrobat or sirkus, kaya'nya lagi 'happening' di keluarga kita. Mengingat gimana excited-nya Mika dan Darrell nonton Moscow Circus, begitu tau ada Indonesia International Circus Festival, kita langsung cari info tentang acara itu.

Publikasinya cukup ok. Di website-nya, katanya ini adalah yang pertama dan terbesar di Asia Tenggara. Di acara, itu ada dua sirkus utama, Cirque Le Masque dari Amerika sana New Shanghai Circus. Karena kita 'berasumsi', Cirque Le Masque mirip sama Moscow Circus, kita pilih New Shanghai Circus aja. Dan, katanya lagi, bakal ada panggung-panggung kecil untuk band-band lokal sama pertunjukkan atraksi kaya' sulap, akrobat, sama musik-musik tradisional.

Perjalanan menuju Senayan, ampunnnn... macet banget. Mulai dari Cibubur, di tol Jagorawi, sampai tol kota. Padatttt... Di Senayan sendiri emang lagi berlangsung banyak banget acara. Ada Pameran buku, ada Bobo Fair, ada Festival Jajanan Bangau. Makanya semua tumplek-blek...

Kakak gue udah nunggu di Hilton. Jadi, dari Hilton kita tinggal jalan kaki sedikit menuju arena festival sirkus itu. Sampai di sana, gue rada kecewa sedikit. Begini nih, akibat kebanyakan 'mengkhayal' gara-gara baca buku or nonton film. Di bayangan gue, arena parkir timur itu bakal seperti pasar malam. Ada badut-badut main bola, ada badut yang pake engrang... pokoknya rame deh. Tapi yang gue liat cenderung 'sepi-sepi' aja. Stand makanan rame, tapi buat gue kurang menarik. Jajanan tradisional hanya ada tauge goreng sama kerak telor. Yang lain, jual hot dog, minuman, gulali bahkan stand pop mie banyak banget. Terus, panggung-panggung kecilnya malah kosong. Gak ada pertunjukkannya. Ada sih satu panggung kecil, tempat tradisional show, rombongan tanjidor lagi siap-siap. Ada juga sih arena untuk permainan anak-anak, kaya' carrousel.

Jam 17.45, pertunjukkan New Shanghai Circus dimulai. Pemainnya masih muda-muda banget. Kira-kira umur 9 - 20 tahunan. Ngeliat atraksi mereka dengan musik mengalun pelan, beda sama Moscow Circus yang terlihat lebih gegap-gempita dan megah. Gerakan mereka lebih gemulai.. aduh, gimana ya, gue ngegambarinnya.. pokoknya lebih halus. Akrobatnya bukan yang bikin kaget, tapi, tetap mengagumkan.



Foto-foto sementara dari sini dulu

Yang menarik perhatian, atraksi dua anak kecil. Lucu banget (hmmm.. jangan sampai memberi 'inspirasi' untuk Mika dan Darrell berakrobat di rumah).

Tiba-tiba, pas separuh pertunjukkan. Lampu tenda dimatiin. Kita disuruh keluar, katanya takut tendanya ambruk. Emang sih, lagi hujan deras banget. Angin kenceng. Sebelum acara dimulai, ada salah satu penonton yang bilang, "kalo hujan lebat, tendanya bisa ambruk nih."

Ternyata, di kursi bagian depan yang deket pintu masuk, karpetnya udah basah banget. Kita berdesak-desakan di bawah atap di depan pintu masuk. Gak bisa ngapa-ngapain. karena ya, hujan deras, gelap. gak bisa juga mau ke parkiran. udah gitu, kita juga gak tau apakah pertunjukkan bakal dilanjutin atau nggak. Lalu, ada gosip-gosip beredar, kalo tenda tempat Cirque Le Masque rubuh. Ada yang luka.

Setelah agak reda, ada petugas yang bawa payung besar banget, 'mengangkut' kita yang sedang 'terkatung-katung' ke tenda yang lebih proper. Kita dibawa ke tenda tempat penjualan karcis. Di sana juga rame orang-orang yang mempertanyakan 'nasib' mereka. Katanya, besok (hari minggu) dateng aja lagi. Tiket bisa dicap sesuai tanggal yang kita mau. Mereka yakin banget kalo pertunjukkan bisa berlangsung lagi besoknya.

Akhirnya, kita pulang. Udah cape' banget, tapi gak berasa puas. Kecewa berat judulnya. Biarpun bisa dateng lagi, kita semua udah pada il-feel. Padahal, masih banyak atraksi di New Shanghai Circus yang belum kita liat. Mau nyari makan juga udah males, akhirnya begitu sampai rumah, kita bilang, "Tolong bikinin indomie dongggg..."

The Mask

Minggu ini, Mika belajar tentang festival atau perayaan di Indonesia dan dunia. Salah satunya adalah Masquerade atau Pesta Topeng. So, the art & craft session-nya adalah membuat topeng.

Bahan-bahannya adalah karton yang udah dipotong berbentuk topeng. Terus, ada kertas warna emas yang dibentuk seperti karton tadi, lem dan glitter. Jadi, kertas emas itu ditempelin ke permukaan topeng, terus, ditaburin deh sama glitter. Mika masih agak susah untuk nge-lem, apalagi, mulai 'panik' begitu ngeliat tangannya penuh dengan glitter. Tinggal nanti, dibolongin terus dikasih tali, biar bisa dipake jadi topeng, deh...


Friday, July 2, 2010

Mari Berkebun...



Beberapa minggu yang lalu, ada acara 'Go Green' di sekolahnya Mika. Kebetulan gue gak bisa ikut, karena ada acara juga di kantor.

Persiapannya agak heboh, karena gue harus nyari alat berkebun plastik dulu. Untung ketemu di Ambasador. Mika seneng banget dong, punya alat berkebun sendiri. Meskipun belum Hari H-nya, itu ember udah dibawa-bawa terus sama Mika. Apalagi, embernya warna merah... jadi makin seneng deh, Mika-nya.

Sebelumnya, gue agak khawatir, karena Mika kan kadang-kadang suka gak mau kotor-kotoran. Jadi bolak-balik gue cerita, kalo nanti mau berkebun, terus Mika bilang, "Pinter, ya. Gak jijik ya."

Dan, suster-nya Mika pun cerita, kalo Mika ternyata enjoy pas acara berkebun itu. Mika seneng nyiram-nyiramin pohonnya pake siraman kecilnya.

And here are some of the pictures. Sayang banget, gue gak bisa ikutan.








May Your Wishes Come True



from: We Heart It

Now Reading: Nobody's Boy

Nobody's Boy (Sebatang Kara)
Hector Malot @ 1878
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU - April 2010
384 hal.

Ketika masih bayi, Remi diculik dan ditinggalkan di sebuah jalanan di Paris. Seorang pemotong batu yang miskin mengangkatnya sebagai anak, tetapi lalu menjualnya kepada Signor Vitalis, pemusik jalanan yang membawa Remi berkelana bersama rombongan pertunjukannya yang terdiri atas anjing-anjing dan seekor kera. Dari Signor Vitalis-lah Remi belajar bermain musik, dan orang tua ini menjadi pengganti sosok ayah baginya. Berbagai peristiwa dialaminya: kehilangan orang yang disayangi, menemukan sahabat sejati, dan yang terutama: harapan untuk menemukan kembali orangtua kandungnya.

Buku ini merupakan karya masterpiece klasik tentang keberanian, integritas, dan kesetiaan. Perjalanan panjang seorang anak dalam mengatasi kehidupan di jalanan.

Thursday, July 1, 2010

The Russian Flying Trapeze

Hari Sabtu kemarin, berhubung sekolah Mika libur, siangnya kita jalan-jalan ke PIM. Salah satu 'agenda' di PIM adalah ngeliat The Russian Flying Trapeze. PIM meng-klaim, ini adalah atraksi trapeze pertama di dalam mal. Ok, dehhhh....

Pertunjukannya sendiri baru mulai jam 4 sore. Tapi, dari jam 3, para pengunjung (termasuk gue dan 'rombongan') udah mulai cari tempat strategis. Mengingat pengalaman nonton barongsai yang desak-desakan, ini pasti juga akan begitu. Bener aja, gak lama, dari lantai 1 sampai 3, udah penuh orang-orang yang pengen ngeliat atraksi itu. Ternyata, pemainnya sama seperti yang kita liat di Moscow Circus. Kita nonton dari lantai 3. Sejajar dari tempat mereka berdiri.




Hmmm... masih seru dan menegangkan sih. Kita masih berteriak, "Wooowww..." setiap mereka beratraksi. Tapi, entah kenapa, 'efek'nya gak setegang waktu pertama gueliat. Entah karena emang gue udah tau seperti apa yang akan mereka tampilkan, atau, entah karena efek tempat yang 'gak se'dramatis' di tempat sirkus beneran. Tapi, tetap ok lah. Tetap aja membuat gue kagum. Dari dulu, kalo ngeliat sirkus - entah nonton langsung atau liat di tv, atraksi trapeze yang paling membuat gue terkagum-kagum.

Mika juga seneng ngeliat para pemain berayun-ayun di udara. Mika sampe bolak-balik ikutan tepuk tangan juga.

Pics from: Vivanews