Monday, February 27, 2012

Now Reading: Anak Sejuta Bintang


Anak Sejuta Bintang
Akmal Nasery Basral
Penerbit Expose - Januari 2012
400 hal.


Memberi sesuatu yang kita senangi kepada orang lain itu selalu membuat hati kita bahagia. Rezeki kita pasti akan bertambah jika kita bisa lebih ikhlas
(Hal. 132)

Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangaan untuk menyampaikan keinginan.
(Hal. 149)


Sinopsis (dari Mizan.Com)


Di bawah siraman cahaya bintang, bocah lelaki itu mengusap wajah, menyeka air mata yang seketika menggenang di pelupuk mata. Ia teringat tatapan teman-teman sekelas, seolah serempak menghunjamkan berbagai pertanyaan. Padahal, ia sendiri tak tahu dari mana kekalahan itu bermula. Tak ada yang salah, segala hal telah dilakukan dengan saksama. Tetapi, semua itu belumlah cukup. Ia kalah justru di akhir perburuan, dipaksa nasib menerima kenyataan yang, sebelumnya, tak terbayangkan.

Di langit, lintang waluku berkeredip memamerkan cahaya yang, alangkah, cemerlang. Bocah itu telah menempuh perjalanan panjang penuh cahaya, dididik ‘sejuta bintang’ mumpuni, dan tumbuh dalam dekapan cinta ayah-ibunya. Maka, ia tak ingin tenggelam lebih lama, mesti berjuang lebih gigih, seperti harapan ‘sejuta bintang’ yang mengitari hidupnya.

Inilah novel yang berkisah tentang keriangan dan kegilaan dunia anak-anak. Diramu dari sengitnya persaingan, percikan-percikan cinta, hangat kebersamaan, dan keluguan yang menggemaskan. Tegangan mencekam dan inspirasi tak terperi membuat novel ini kaya warna. Bersiaplah menerima kejutan dan kesan yang mendalam.

Friday, February 24, 2012

Now Reading: Rumah di Seribu Ombak


Rumah di Seribu Ombak
Erwin Arnada
Gagas Media - Cet. 1, 2011
388 hal.

“Allah memberkati kita dengan keberanian. Rasa takut adalah hal yang kita ciptakan sendiri. Perasaan apa yang nanti menguasai kita adalah pilihan kita sendiri…”
(hal. 197)

Sinopsis (dari Goodreads.com):

Tahukah kau mengapa Tuhan menciptakan langit dan laut? Semata agar kita tahu, dalam perbedaan, ada batas yang membuat mereka tampak indah dipandang.

Aku melihat lagi langit di atas Laut Lovina. Kenangan bersamamu menyerbu masuk ke ingatanku. Laut dan mimpi-mimpi kita. Apa kabar hidupmu?

Kita memang berbeda. Aku tahu. Sama tahunya seperti dirimu. Warna yang mengalir di nadimu tak sewarna dengan yang mengalir di nadiku. Namun, bukankah kita tak pernah bisa memilih dengan warna apa kita lahir? Kita lahir, lalu menemukan tawa bersama. Menyatukan cerita bersama. Menjumputi mimpi bersama.

Mengapa kini kau lari menjauh?

Lalu, apa kabarmu? Mengangakah masih lukamu yang dulu? Atau, kini sudah terpilihkan bagimu akhir yang bahagia? Maafkan aku. Maafkan karena tak bisa selalu menjadi laut yang tetap menyimpan rahasiamu.

Tuesday, February 21, 2012

Healthy Monday


Buah naga merah + jeruk + es krim cokelat
Nyam..nyam..nyam...

My Weekend..

Salah satu aktivitas weekend kemarin:


menamatkan dua buku: Twivortiare dan Three Weddings and Jane Austen.



Plus, ke kelurahan ngurusin e-ktp

Wednesday, February 15, 2012

My Weekend..

Langit cerah... eh.. udah terang-benderang.. masih keliatan bulan



Nemenin Mika main sepeda...




Abis main, sepeda... dibersihin dulu dong....



Sementara Mama-nya baca buku


Happy... :)

Tuesday, February 14, 2012

Nostalgia dengan Majalah Bobo


Minggu lalu, iseng-iseng gue beli Majalah Bobo untuk Mika. Wah... ada kali lebih 20 tahun yang lalu dari terakhir gue baca buku ini. Dulu pas SD, setiap minggu, hari Kamis, pasti nungguin tukang majalah lewat atau titip si mbak beli di pasar. Kalo kehabisan, bingung... Favorit gue adalah Kisah Pak Janggut.

Meskipun awalnya Mika seneng gue bawain majalah Bobo, tapi rasanya dia masih kurang antusias. Karena ceritanya panjang-panjang, jadinya, Mika rada bosen dengerinnya.

Ya udah, jadi gue aja yang baca-baca cerita-cerita itu sendiri. Hmm.. cerita Bobo tentunya masih ada, Oki dan Nirmala juga ada. Si Bona masih ada juga. Cerpen-nya makin banyak. Ada reportase Bobo, ada rubrik pengentahuan lainnya.




Oh ya, rubrik puisi juga masih ada. Dulu gue suka banget guntingin puisi-puisinya, terus gue kumpulin dalam satu buku. Dan ,gara-gara ini juga, pas SD itu, gue jadi suka nulis puisi dan seneng banget kalo dapet tugas mengarang.

Senangnya bisa baca Bobo lagi, tapi kaya'nya Mika masih 'terlalu' kecil untuk gue beliin si Bobo ini.

Now Reading: Delirium

Delirium
Lauren Oliver @ 2011
Vici Alfani Purnomo (Terj.)
Mizan, Cet. 1 - Desember 2011
518 hal.

Dunia yang dihuni Lena Haloway adalah dunia tanpa cinta.
Cinta adalah sebuah dosa besar.
Sastra dan puisi masuk dalam “Kompilasi Lengkap Kata-Kata dan Ide-Ide Berbahaya.”
Penikmat musik dijebloskan ke penjara.
Tertawa bahagia dianggap melanggar aturan.
Suami-istri, ibu-anak, kakak-adik, hanya sebuah ikatan tanpa kasih sayang.

Binatang. Orang yang jatuh cinta dianggap binatang.

Lena pun demikian, ketika dia jatuh cinta kepada Alex Sheates.

Mereka hidup dalam rasa takut hebat, dan hanya menunggu waktu hingga mereka menanggung hukuman.

Link
“Sangat menarik dan adiktif ….”
—Bookseller’s Choice, The Bookseller

“Kombinasi antara The Handmaid’s Tale dan Twilight ….”
—Fabulous Magazine


- Amazon Best Book of the Month in February 2011
- The Nomination of 2011 Goodreads Choice Awards
- Akan difilmkan oleh Fox 2000

Monday, February 13, 2012

RIP: Whitney Houston



Di pagi yang cerah, setelah nemenin Mika main,siap-siap mandiin Mika, Mama bilang, "Breaking News." Gue bilang, "Apaan?" Kata Mama, "Whitney Houston meninggal."

Gue terdiam... mmm.. bukan sok kenal atau berlebihan, tapi, gue langsung inget, betapa lagu-lagu beliau lumayan akrab menemani 'perjalanan hidup' gue. Aih... berat...

Hey.. it's true... sampai detik ini, beberapa lagu Whitney Houston jadi lagu favorit gue, sebut aja One Moment in Time, Greatest Love of All, Run to You atau yang nge-beat seperti Wanna Dance with Somebody.

The Bodyguard seinget gue, gue tonton sama pacar pertama gue (huehehehe...). Seinget gue lho.. agak lupa, apakah gue nonton sendiri di vcd atau sama si do'i itu. Yah, meskipun gue gak terlalu suka dengan film tersebut, tapi soundtrack-nya enak-enak.

Ah.. gue mungkin bukan orang yang terlalu tertarik dengan yang namanya kehidupan selebtritis... tapi, saat ada berita seperti ini, rasanya koq ada yang 'hilang' aja...

So, today's soundtrack would be Whitney Houston's songs...

Thursday, February 9, 2012

Now Reading: Ayahku (bukan) Pembohong


Ayahku (bukan) Pembohong
Tere-Liye
GPU - Cet. V, Januari 2012

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?

Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.

Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.

Tere-Liye adalah pengarang beberapa novel dengan rating tinggi di website para pencinta buku www.goodreads.com. Tere-Liye banyak menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan, mencoba memahami banyak hal dengan melihat banyak tempat. Selamat membaca novel kecil ini.



Setamat membaca buku ini, satu hal yang pasti nyata: saya menangguk banyak kearifan di kedalaman cerita.
--A. Fuadi, Penulis Trilogi Negeri 5 Menara

Sungguh Tere-Liye berhasil menggugah saya sebagai pembaca sekaligus seorang anak dari seorang ayah yang sangat saya banggakan. A must read.
--Amang Suramang, Penggerak di Goodreads Indonesia

Isinya tak hanya menggugah dan membuat haru, tapi membuat kita merasa perlu meneguhkan kembali keyakinan dan kecintaan pada keluarga. Salut atas novel ini!
--Arwin Rasyid, Presiden Direktur Bank CIMB-Niaga

Novel ini dapat menjadi langkah awal untuk menata ulang konsep budi pekerti di negeri ini.
--Muliaman D. Hadad, Deputi Gubernur Bank Indonesia

Wednesday, February 8, 2012

Sesuatu dari Mika

Hari Senin, pulang kantor, pas masuk ke rumah, Mika kasih 'kejutan'. Begitu gue masuk, ternyata Mika udah nunggu di bawah, dan dia langsung bilang, "Taarrra... Mika punya sesuatu untuk Mama."

Langsunglah Mika kasih gue hasil prakarya-ya di sekolah. Dan, sebelum tidur, dipajang dulu di dinding kamarnya.


Wah... senangnya... :)
Thank you, Mika.. *muach...*

Tuesday, February 7, 2012

Mika's Gallery

Inilah sebagian 'karya-karya' Mika di sekolah, dikumpulin di dalam satu buku dan dibagiin di akhir semester.




Monday, February 6, 2012

On My Birthday


Hari ulang tahun, makin lama mungkin makin terasa biasa aja untuk gue. Ya, maklum lah, mungkin karena bertambahnya usia, udah ilang tuh rasa pengen diramein, mengharapkan kado macem-macem. Paling-paling, kalo ditanya pengen kado apa, gue jawabnya, buku aja deh. Sekarang, gue lebih ribet mikirin acara untuk ulang tahunnya Mika – yang bahkan sampai sekarang pun belum pernah dirayain dengan ‘heboh’. Paling kumpul-kumpul sama kakak and adik-adik gue, beserta anak-anak mereka. Ini pun udah cukup heboh.

Di pagi gue ulang tahun, gue bilang sama Mika, “Hari ini mama ulang tahun nih… cup mama dong.” Biasa deh, kalo udah disuruh-suruh begitu, Mika malah jadi iseng. Dan nyium gue dengan gaya yang aneh-aneh.

Pas malemnya, ternyata mama bikinin nasi kuning lengkap (thank’s, mom!). Baca doa sedikit, dan makan malam seperti biasa.

Tiba-tiba Mika nyeletuk:
Mika:”Mama ulang tahun ya?”
Gue: “Iya.”
Mika:”Yang ke berapa?”
Gue: “Ke 35”
Mika: “Wah… banyak sekali!”
Gue: *speechless*

Terus gue tanya, “Mika mau kasih tau sesuatu apa untuk mama?” Dan dengang polosnya, Mika jawab,”Hmmm.. gak tau.”

Besoknya, pas lagi main-main, Mika bilang,”Mama ulang tahunnya nanti malem ya?” Gue bilang, “Kan udah kemarin, sayang.” Mika bilang, “Ihh. Mama belum ulang tahun, kan seharusnya tiup lilin dulu.”

Jadilah nih, pas malem-malem, Mika bilang lagi, ngingetin buat tiup lilin. Yah, bingunglah gue, di rumah lagi gak ada kue. Untung nih, ada cupcake dari ultah si Queency yang belum dimakan. Si cupcake kecil itu jadi kue ulang tahun gue. Dan lilinnya, hanya ada angka satu, yang itu pun sempet diprotes sama Mika, yang bilang, “Ihhh.. itu kan untuk ulang tahun ke satu.” Tapi setelah dibujuk, baru boleh pake lilin angka satu itu. Dan Mika sempet bilang lagi, “Lilin angka 35-nya gak ada.”

Setelah siap, Mika sibuk teriak-teriak panggil orang-orang di rumah, “Nang… Nenek… turun… Mama mau tiup lilin!!” Dan begitu nyanyi Happy Birthday, terus tiup lilin, matanya Mika berbinar-binar. Terus dia bilang, “Mika punya sesuatu untuk Mama.” Gue bilang, “Apa?”, kata Mika, “Itu ada di kamar.” Gue tanya, “Yang mana?” Dan… lagi-lagi Mika bilang, “Ehmm… gak tau.”

Abis itu, untuk ‘melengkapi’ ritual ulang tahun, Mika ngajak main kembang api. Dan lagi-lagi, di rumah gak ada simpenan kembang api. Dan, entah dari mana, sodara gue nemu kembang api. Meskipun ‘bantet’, Mika cukup seneng ngeliat itu kembang api nyala sebentar.

Duh, gue jadi terharu… saat gue gak ‘prepare’ dengan tetek bengek ulang tahun, Mika bikin ulang tahun kali ini jadi special. Thank you, Mika…

Wednesday, February 1, 2012

Welcome, February ...

via tinywhitedaisies

Semoga bulan ini penuh berkah...
penuh cinta...

dan lebih semangat ... :)