Thursday, January 27, 2011

[Movie] Serigala Terakhir

Nonton ‘Serigala Terakhir’ semalem. Kebetulan gue belum ngantuk, dan di SCTV ada film ini. Yah, lumayan deh, buat bikin ngantuk. Dan, gue rada tertarik sedikit nonton film ini, karena ada faktor ‘Vino’-nya.. hehehe… Tapi, ternyata, nonton ini bikin gue stress….

Dari awal sampai akhir, isinya berantemmmmmm terus. Di awal, sih, mungkin masih ‘simple’, masih sebatas anak-anak muda, 5 orang yang bersahabat, anak kampung yang merasa ‘jagoan’, lebih sering pake fisik daripada pake otak. Di antara 5 orang itu, memang tokoh Jarod (Vino G. Bastian), yang lebih ‘manusiawi’, karena cenderung lebih pendiam. Bisa lebih berterima kasih, rasa setia kawannya paling besar – ini ditunjukkan ketika ia membela Ale (Fathir Muchtar) yang nyaris ditusuk pake pisau, yang membuat Jarod harus masuk penjara. Tapi, dari 4 orang yang katanya sahabatnya itu, gak ada yang berani buka mulut untuk membela Jarod. Kehidupan penjara yang keras pun membuat Jarod jadi pribadi yang semakin keras.

Ya itu, di awal, pertarungan antar gang yang emang ‘mengerikan’… makin ke belakang, makin ‘berdarah’. Isinya penuh dengan balas dendam, makin gampang menghilangkan nyawa orang. Jarod yang keluar dari penjara, akhirnya bergabung dengan gembong pengedar narkoba, yang merupakan musuk besar dari kelompok teman-teman lamanya.

Ya udah deh, isinya saling balas dendam, tembak-menembak, Jarod emang jadi semakin keras, meskipun ia masih ingin kembali bersahabat dengan teman-teman lamanya. Tapi, ketika orang-orang yang disayanginya disakiti, ia tidak peduli apakah itu teman atau lawan.. yang penting balas dendam.

Selain berantem dan kekerasan, film ini juga penuh dengan kata-kata ‘A****G’, ‘B*****T’, dan sejumlah kata makian lainnya.

Gue sih gak sampe abis nontonnya, jadi gue rada penasarannya juga sama endingnya. Siapa yang bakal jadi ‘serigala terakhir’? Tapi, sumpah, gue udah keburu stress, makanya ya, sudahlah, gue matiin aja tv-nya. Dan menurut gue, film ini jadi hanya mengumbar kekerasan semata. Dan, I don’t like some of Vino’s outfit. Apalagi celana ketat bermotifnya… uuuuhhh.. please……apalagi pas udah berkumis tipis dan rambut klimis, gak banget dehhhhh… Dan, emang gue gak cocok banget nonton film beginian.


Tuesday, January 25, 2011

thx thx thx

via exPress-o


Wow... 'a thank you note a day'... inspiring...

Well.. let's thank for every simple thing everyday...




Monday, January 24, 2011

Ooops.. It's Monday.. :(

via It's The Little Things That Make A House A Home...

I must say, I really had a great time last weekend …

Hari Sabtu, pas ultah Mika yang ke 3. Pas gue bangun, Mika masih ngulet-ngulet. Gue bilang, “Happy Birthday, Mika… Selamat ulang tahun ke 3, baby…” Terus, biasa lah, rutinitas kalo libur. Ngumpet di balik bantal dulu, terus, beresin tempat tidur, sarapan.

Siap-siap mau ke PIM, ada acara ulang tahun anaknya temen gue di AW. Mika excited banget. Di jalan juga sibuk ngoceh-ngoceh seperti biasa.

Sampe PIM, masih sepi. Ke gramedia sebentar, nyari kantong kertas, Mika sempet gue beliin buku. Seperti biasa, sibuk mau bawa bukunya ke kasir.

Ke Hero dulu, beli isi goodie bag. Mika sibuk juga mau taro barang-barang di dalam trolley.

Di AW, Mika duduk manis di bangku kecil yang disedian untuk anak-anak. Mau dipakein topi, ikut tepuk tangan dan angkat tangan.

Cuma sebentar di sana, jam 12, langsung pulang ke rumah.

Sore-sore, siap-siap menyambut para ‘tamu undangan’. Hehehe.. gak ada ngundang siapa-siapa sih, hanya the four little princes and the baby princess. Karena gak pada dateng-dateng, Mika bilang, “Pada ke mana, sih? Koq lama banget?”

Dan, begitu teman-temannya pada dateng, Mika langsung heboh. Lompat-lompat dan teriak-teriak panggil-panggil semua tamunya. Ngeliat ada kado, kadonya gak mau dilepas, mau dibawa ke mana-mana.

Setelah sholat maghrib, dimulailah ‘acara utama’. Acara sederhana aja, koq. Tiup lilin, Mika semangat nyanyi Happy Birthday. Abis itu, makan nasi kuning, deh. Sementara anak-anak kecil pada main, yang dewasa sibuk makan. Menunya nasi kuning lengkap, ada tekwan dan siomay.

Terus, acara buka kado. Wahhh… Mika maunya buka kado yang paling gede dulu. Dan, ternyata kado yang paling dia pengen. Selama ini, kalo ditanyain mau kado apa, Mika bilang, “Mau yang besar gede.” Ehhh.. ternyata Mika dapet cement mixer. Langsung deh, dimainin. Terus, heboh begitu liat dapet gitar kecil, dapet teropong dan mobil-mobilan kecil.

Di dalam set gitar, selain gitar kecil, ada ‘kecrekan’ dan dua maracas kecil. Semuanya langsung ‘dibagi-bagi’ ke Fayyaz, Nayswan dan Darrell dan mereka berempat langsung naik kursi, lompat-lompat sambil nyanyi.

Malemnya, Mika susah banget mau tidur. Cement mixer gede, teropong, mobil2an kecil dan gitarnya mau dibawa ke tempat tidur. Lama banget bilang ke Mika supaya cement mixernya di’parkir’ di bawah tempat tidur aja. Sampai akhirnya lampu dimatiin, baru Mika tidur.

Hari Minggu pagi, Mika bangun duluan. Langsung turun dari tempat tidur dan teriak-teriak, “Udah siang… udah siang!” Dan, Mika langsung ke tempat cement mixer-nya ‘parkir’.

Minggu siang, kita ke Senayan City. Nyari sepatu buat dan bola buat Mika. Biasa deh, langsung mau bawa sendiri ke kasirnya. Bahkan, sepatunya mau langsung dipake. Kantong plastiknya juga dibawa-bawa sendiri.

Pas makan, gue udah beliin Mika nasi goreng… ehhh.. ngeliat mbak-nya bawa nasi putih, piring nasi putihnya diambil dan Mika makan nasi putih plus ayam dari nasi goreng.

Sempet mampir Gunung Agung, Mika ‘maksa’ gue beli buku. Mika bilang, “Ini untuk Mama yang warna merah.” Ternyata dia ambil buku Eleven Minutes-nya Paulo Coelho yang covernya warna merah. Gue ganti sama yang lain, Mikanya gak mau. Langsung dibawa ke kasir. Untung setelah bayar majalah Playhouse Disney, Mika lupa sama buku merah buat gue itu. Hehehe…

Malemnya, sibuk main bola, plus main gitar. Kalo udah mau main gitar, seperti biasa, Mika bagi dulu alat musiknya ke yang lain, terus kita semua harus berdiri, ngikutin Mika nyanyi sambil main gitar.

Mau tidur juga sempet susah, karena pengen bawa bola barunya tidur.

Bangun pagi ini, seperti biasa deh… males… bawaan hari senin… ngantuk aja… dan makin males karena inget hari ini gue harus appraisal!!!

*foto-fotonya menyusul*


Friday, January 21, 2011

Happy Weekend!

via Lovely Little Things

Besok ulang tahunnya Mika yang ke 3... Wah.. my baby is not a baby anymore... hiks..hiks...
Meskipun gak ada pesta-pesta yang heboh, tapi adalah persiapan sedikit untuk ngerayain ulang tahun Mika.

Mulai dari pesen kue, nyiapin small goodie bag.. hehehe.. cuma 5 kantong aja.. kan anak-anak kecilnya cuma 5 orang, itu udah termasuk sama si Baby Queency.. hehehe...
Kalo kado.. untungnya udah gue siapin dari sebulan yang lalu... karena ternyata weekend-weekend terakhir ini malah gak pernah ke mall.

Hope this weekend is going to be fun...


Friday, January 14, 2011

Now Reading: He Loves Me Not... He Loves Me

He Loves Me Not... He Loves Me (Dia Benci... Atau Cinta?)
Claudia Carroll @ 2004
Nur Anggraini (Terj.)
GPU - November 2010
448 Hal.

Portia Davenport sadar bahwa istana bangsawan abad ke-18 yang ditinggalinya bersama Lucasta, ibunya, dan Daisy, adiknya, sudah tidak lagi semegah dulu. Bencana terjadi saat ayah mereka meninggalkan keluarga itu setelah menguras habis harta terakhir mereka. Tapi secercah harapan muncul saat Steve Sullivan, sahabat lama sekaligus pengacara keluarga, menyarankan agar mereka mengizinkan istana itu dijadikan lokasi syuting film.

Di tengah kehebohan yang terjadi selama masa syuting di Davenport Hall, Portia bertemu dengan Andrew de Courcey, yang ternyata menjadi tetangga barunya. Pria itu sangat menawan dan Portia jatuh cinta padanya. Masalah muncul dari Mrs. de Courcey, ibu Andrew, yang tidak menyukai hubungan mereka sehingga membuat Portia bimbang. Apakah Andrew juga mencintai Portia?

Monday, January 10, 2011

My Weekend

via A Cup of Jo

- Nemenin Mika main bola. Ternyata, Mika lebih sering nendang bola pake kaki kiri. Sebelum bola ditendang, dilempar dulu ke atas. Terus, kalo udah ditendang, gak lupa teriak, “Golll…!”, sambil dua tangan diangkat ke atas.

- Abis mandi, nemenin Mika nonton Cars. Selama nonton, Mika gak berhenti ngoceh.

- Bosen nonton, Mika masuk ke kamar bermain dan mulai main ‘parkir mobil’.
- Makan siang, dikasih spaghetti, malah nyari nasi plus plok-plok-plok. Yahhh.. akhirnya, siang itu Mika cuma makan nasi + telor ceplok + tempe goreng.

- Sore-sore, bangun tidur, Mika maunya bobo’an dulu sambil ‘ngumpet’ di balik bantal.
- Main bola lagi. Tapi, kali ini Mika main sama mbak-nya aja. Mama-nya sibuk ‘ngemil’ sore-sore. Hehehe…


- Minggu pagi, ajak Mika bikin pas foto. Udah ‘latihan’ dulu di rumah – Duduk manis, senyum ganteng, terus… klik… Kalo lagi, ‘nurut’, Mika bisa senyum dengan bener, tapi kalo lagi iseng… uhhh.. ada aja gayanya. Untungnya pas benerannya, Mika nurut banget. Gue dudukin Mika di kursinya. Terus, gue bilang, “Duduk manis, senyum gantengnya.. liat ke kamera ya.” Mika betah aja bolak-balik di-jepret-jepret, sampai ketemu pose yang pas. Dan hasilnya…sangat memuaskan.

- Belanja buah. Pas turun mobil, Mika bilang, “Mika mau jalan aja, kan udah besar.”

- Ke Giant, beli susu. Terus ke Legenda Wisata, ngeliat Queency. Hehehe… keseringan gendong Mika yang udah berat, begitu gendong Queency… ehhh.. enteng banget….

- Malemnya, nemenin Mika main lagi.

- Tadi pagi, pas gue lagi siap-siap, tiba-tiba Mika bangun, dan manggil, “Mama…” Hehehe.. matanya melek sebentar, terus merem lagi sambil tangannya nyari-nyari tangan gue.. uuuuhhh.. bikin males kerja aja. Pengennya ikutan sama Mika ngumpet di balik bantal.


Friday, January 7, 2011

Now Reading: Angel's Cake

Angel's Cake
Gaile Parkin @ 2009
Ingrid Nimpoeno (Terj.)
Qanita - Cet. 1, Oktober 2010
452 Hal.

“Mengalir dan sangat menggugah ... memotret wanita-wanita perkasa yang bertahan dari kebrutalan perang Rwanda. Wanita-wanita yang melambangkan harapan untuk masa depan.” —The Independent

“Rwanda telah mengalami hal sangat, sangat, sangat buruk. Banyak hati dipenuhi rasa sakit, banyak mata melihat hal mengerikan. Tetapi banyak di antara hati itu kini mulai berani berharap; dan banyak mata mulai memandang ke masa depan. Kehidupan berlanjut, setiap hari ....”

Angel Tungaraza mungkin sudah gila. Bersama suami dan anak-anaknya, dia memutuskan pindah ke Rwanda yang baru tercabik perang. Apalagi dia membuka bisnis kue. Angel yakin, Rwanda akan bangkit karena orang-orangnya yang kuat. Melalui kue-kue manis yang sederhana, Angel menyajikan warna-warni kehidupan dan asa.

Angel selalu mendengarkan dengan saksama cerita para pelanggannya, dan berupaya mewujudkan keinginan terdalam mereka lewat kue-kuenya. Kue-kue penyembuh luka. Luka Dieudonn√© yang mencari sisa keluarganya hingga setengah dunia, luka Linda, wanita Inggris yang lari dari pernikahannya. Namun, di balik semua keceriaan dan kebesaran jiwanya, Angel ternyata menyembunyikan lukanya sendiri. Luka rasa bersalah yang diakibatkan oleh kematian sang anak—kematian yang selalu disangkalnya. Bagaimanakah Angel akan memulihkan luka yang menggores jauh ke dalam hatinya itu?

“Novel tentang hidup di negara yang berusaha pulih dari kengerian luar biasa.

Angel Tungaraza jelas akan memesona pembaca.” —Bookseller

Novel debut langka yang memesona kita dengan kisah yang memukau tentang kemanusiaan... membawa kita ke tempat-tempat baru dan kehidupan-kehidupan yang tak terbayangkan. —Random House

Monday, January 3, 2011

Our Current Fave Book



Buku ini sebenernya udah lama banget gue beli. Mungkin waktu Mika masih bayi. Tapi, baru-baru ini aja dikeluarin Mika dari lemari bukunya. Dan, ternyata, Mika juga suka banget kalo gue bacain buku ini.

Di setiap halaman, gue baca sambil gue peragain apa yang ada di gambar. Misalnya, waktu baby penguin lagi gandeng mama penguin, sambil baca, gue akan pegang tangan Mika. Atau, waktu baby kelinci lagi dicium sama mama kelinci, gue akan cium Mika juga. Dan, kalo lagi manja, begitu liat gambarnya, Mika langsung beraksi tanpa gue bacain dulu isi halaman itu.

Hehehe.. baca buku ini, kesempatan buat Mika dan gue saling 'bermanja-manja'. Gue jadi pengen beli satu lagi, soalnya yang ada sekarang, covernya udah hampir lepas dan halaman-halamannya udah pada lecek.


Now Reading: Petals from the Sky

Petals from The Sky
Mingmei Yip @ 2010
Samira (Terj.)
Gagas Media - Cet. 1, 2010
552 hlm

Di usia kedua puluh tahun, Meng Ning memutuskan untuk menjadi biksuni (pendeta wanita agama Buddha) dan langsung ditentang keras oleh ibunya. Di mata beliau, kehidupan membiara tak jauh-jauh dari penderitaan: tak ada kebebasan, hidup tanpa cinta dan daging. Tapi, di mata Meng Ning, menjadi biksuni adalah kesempatan berharga untuk memegang kendali penuh atas takdir hidupnya, dan menikmati sepuas-puasnya belajar musik, seni, dan puisi - sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ikatan perkawinan.

Ditemani mentornya, Yi Kong, Meng Ning akan menghabiskan sepuluh tahun belajar di luar negeri, membiasakan diri hidup selibat, dan mempersiapkan diri untuk membiara. Namun, sebuah insiden kebakaran membelokkan takdirnya ke situasi yang benar-benar berbeda.

Meng Ning jatuh cinta....

Welcome, Queency...


Sementara di luar, orang sibuk bergegap gempita, bersuka cita menyambut tahun baru 2011 dengan kembang api, petasan dan makan-makan, suka cita di rumah jadi double karena kehadiran keponakan perempuan pertama di keluarga kita, Queenasya Nadyenka Er Rozas. Panggilannya, Queency, seperti yang selama ini disebut-sebut sama si Kakak, Darrell.

Acara malam tahun baru di rumah, kita bikin 'stemboat' ceritanya mau 'shabu-shabu'an gitu deh. Sore-sore, udah pada ngumpul di rumah. Mika udah udah heboh menyambut 'teman-teman'-nya, Fayyaz, Nasyan and Darrell. Tau-tau, kakak gue sama suaminya 'ngilang' gitu aja. Kita gak terlalu curiga, kita pikir dia mau ke rumah temennya dulu untuk acara tahun baruan juga. Tau-tau, suster-nya Darrell bilang, "Kaya'nya ke rumah sakit,deh." Mulai deh, kita pada rada heboh, meskipun gak mengurangi kita heboh makan juga.

Setelah selesai makan, dapet telepon, kalo kakak gue udah melahirkan. Langsung semua jadi makin heboh, dan semua kasih selamat untuk si Kakak baru, Darrell.

Emang sih, dua hari sebelumnya, kakak gue ke dokter, dan katanya udah pembukaan 3, gue bilang, "Hmm.. jangan-jangan tahun baruan di rumah sakit nih." Hehehe.. ternyata betul. Ehhh. tapi ternyata Queency gak sabar untuk nunggu tanggal 1 Januari 2011.

Mama, papa dan mertua kakak gue langsung berangkat ke rumah sakit. Dan, gue sama Mika menikmati kembang api dari jendela kamar kita.

Welcome, Little Queency...