Friday, May 27, 2011

Now Reading: Prophecy of The Sisters

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Sepeninggal sang ayah, serangkaian kejadian aneh menimpa Lia Milthorpe dan saudara kembarnya, Alice.

Diawali munculnya sebuah tanda di pergelangan tangan Lia dan berubahnya sikap Alice, mereka baru sadar terlibat ramalan kuno yang menyebabkan mereka menjadi musuh satu sama lain.

Dengan bantuan dua sahabatnya, Sonia dan Luisa, Lia mempelajari isi ramalan kuno dan baru menyadari malapetaka yang dapat ditimbulkannya. Mereka harus mencari empat Kunci yang dapat mencegah malapetaka itu. Dan Lia harus segera bertindak, sebelum Alice merintanginya…

Wednesday, May 25, 2011

[Travel Fantasy] Guernsey Island

Membaca The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, gue jadi penasaran seperti apa Guernsey itu. Baru sekali ini gue mendengar nama tempat yang letaknya di laut ini. Jadi isenglah gue browsing, nyari-nyari foto-fotonya Guernsey. Duh, jadi pengen 'nyemplung', berenang di pantai...






image via: Guernsey Images, Sea Guernsey, Visit Guernsey

Monday, May 23, 2011

My Weekend


Weekend ini 'seru' menurut gue. Mendadak, ke bandung. Papa ngajak besuk temennya di rumah sakit di bandung, gue gak nyangka sih Mama bakal mau. Mengingat Papa baru bilang malem-malem. Eh, pagi-pagi jam 6, kamar gue diketok, Mama bilang, jadi ke Bandungnya. Ya udah, buru-buru mandi, nyiapin tas dan peralatan Mika. Pas gue lagi mandi, ternyata Mika bangun dan ngegedor pintu kamar mandi.

Jam 7, kita berangkat. Di perjalanan, Mika sibuk lihat kiri-kanan. Jam 10an, sampai di Bandung. Langsung menuju rumah sakit dulu. Gue sama Mika gak ikutan naik. Jadi nunggu di lobby aja. Rumah Sakit 'Sentosa', sepertinya sih rumah sakit baru. Pengen ngajak Mika nunggu di 'Healing Garden'-nya, tapi, panas, ya udah, kembali ke lobby aja.

Jam 12an, kita menuju tempat makan siang, di Roemah Nenek. Santai-santai di sana. Sambil Mika main-main. Abis makan, 'menengok' Factory Outlet. Ke 'Secret' aja. Karena emang gak niat mau belanja, di FO pun akhirnya liat-liat, gak 'napsu' gitu.

Gue cukup surprise dengan Bandung yang tumben gak macet. Mungkin udah pada menyerbu pas long weekend kemarin kali ya.

Abis dari Kartika Sari, langsung menuju Jakarta lagi. Sampai rumah, pas jam 6 sore. Meskipun cape', tapi Mama pun bilang, "Seru juga ke Bandung mendadak begini."

Hari Minggu di rumah aja, kebetulan kakak gue ke rumah, jadi Mika juga sibuk main sama Darrell. Gue santai-santai aja sambil baca 'The Guernsey Literary & Potato Peel Pie Society'.

Friday, May 20, 2011

Now Reading: The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

A moving tale of post-war friendship, love and books, The Guernsey Literary and Potato Peel Society is a captivating and completely irresistible novel of enormous depth and heart.

It's 1946, and as Juliet Ashton sits at her desk in her Chelsea flat, she is stumped. A writer of witty newspaper columns during the war, she can't think of what to write next. Out of the blue, she receives a letter from one Dawsey Adams of Guernsey - by chance he's acquired a book Juliet once owned - and, emboldened by their mutual love of books, they begin a correspondence.

Dawsey is a member of the Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, and it's not long before the rest of the members write to Juliet - including the gawky Isola, who makes home-made potions, Eben, the fisherman who loves Shakespeare, and Will Thisbee, rag-and-bone man and chef of the famous potato peel pie. As letters fly back and forth, Juliet comes to know the extraordinary personalities of the Society and their lives under the German occupation of the island. Entranced by their stories, Juliet decides to visit the island to meet them properly - and unwittingly turns her life upside down.

Gloriously honest, enchanting and funny, The Guernsey Literary and Potato Peel Society is sure to win your heart.

'I can't remember the last time I discovered a novel as smart and delightful as this one. Treat yourself to this book, please - I can't recommend it highly enough.' Elizabeth Gilbert, author of the international bestseller Eat, Pray, Love.

Thursday, May 19, 2011

[Movie] Rio

Weekend kemarin, film Rio ini ditonton sampai 3 kali – 3 hari berturut-turut. Pertama, mungkin karena belum ngerti jalan ceritanya, Mika masih setengah-setengah nontonnya. Kedua dan ketiga, nonton sampai habis dan sesekali ikut cekikikan. (Apakah gue bukan ibu yang baik karena membiarkan anaknya nonton?)

Rio ini bercerita tentang seekor burung Macaw bernama Blu (kebetulan bulunya memang berwarna biru). Ia berasal dari hutan tropis di daerah Brazil. Sepertinya, Blu ini ‘sebatang kara’, karena dia hanya di sarangnya sendirian, ngeliatin sesama burung kecil lainnya lagi belajar terbang. Tapi, sebelum sempat belajar terbang, Blu kecil keburu ditangkap sama orang-orang tak bertanggung jawab, dan dibawa ke Amerika.

Gak sengaja, kotak tempat Blu disimpan jatuh di depan rumah seorang gadis bernama Linda. Linda inilah yang akhirnya merawat Blu hingga dewasa. Sampai dewasa pun Blu gak bisa terbang. Sampai-sampai ia mengira dirinya adalah seekor burung onta, karena berbangsa burung, tapi gak bisa terbang.

One day, seorang pemuda bernama Tulio datang dan meminta Linda untuk membawa Blu ke Brazil. Mengingat Blu adalah burung Macaw jantan satu-satunya dan kalau gak segera dicarikan pasangan, ada kemungkinan spesies mereka akan punah.

Berangkatlah mereka ke Brazil – dan di laboratorium Tulio, Blu ‘dipertemukan’ dengan seekor burung Macaw betina bernama Jewel.

Sesimple itu kah? Gak dong…. Mereka berdua terlibat petualangan, menyelamatkan diri dari penjual burung-burung illegal yang terus berusaha menangkap mereka. Mereka harus ‘berlari-lari’, karena Blu gak bisa terbang, sementara kaki mereka dirantai. Mau gak mau, Jewel harus ngikutin Blu untuk lewat jalan darat.

Yang gue suka dari film ini, selain emang ceritanya yang lucu, adalah ngeliat burung-burung yang warna-warni. Lagi pada nyanyi-nyanyi di hutan. Belum lagi ngeliat anak-anak burung yang bulet-bulet menggemaskan.

Wednesday, May 18, 2011

Weekend (tanpa) ke Mall (4): Klub Dongeng FeMale (lagi)


Acara Klub Dongeng FeMale Radio, jadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Tempatnya kali ini di Museum Polri. Gue bilang ke Mika, kalo mau ketemu sama Paman Gery dan Bubu Mini lagi. Terus, nanti mau lihat helicopter, gue bilang, “Nanti Mika ketemu sama pak polisi, sama bu polisi, terus bisa foto di deket helicopter.”

Hujan turun waktu kita sampai di Museum Polri, Mika dan Darrell yang gak peduli dengan hujan, pengennya langsung main di deket helicopter. Pintu museum dibuka sekitar jam 9an. Museum ini terdiri dari 3 lantai. Di lantai pertama, begitu kita masuk, ada mobil polisi yang tentu saja langsung jadi tempat foto-foto.



Dibagi jadi 3 kelompok, anak-anak diajak keliling museum. Masing-masing dipandu sama satu polwan. Selama berkeliling, ada pasangan kakak-adik yang ‘mengasuh’ Mika sama Darrell. Dari pas baris, mereka berdua yang gandeng Mika dan Darrell – hehehe.. yang karena belum ngerti jadi suka ‘bergerak’ sendiri. Si adik, yang namanya Gabriella, yang nemenin Mika. Kalo Mika keluar barisan sedikit, si Gabriella ini langsung gandeng (bahkan gendong) Mika masuk barisan lagi. Sayang, waktu pulang, gak sempet saling pamit lagi.

Gue lupa sih setiap lantainya ada apa :D. Tapi, yang pasti, kita bisa liat kendaraan polisi jaman dulu, mulai dari motor sampai sepeda kumbang. Foto-foto di dinding, seperti foto kapolri dari masa-masa, foto penjahat yang lagi ditangkap (ada fotonya Jhony Indo, Kusni Kasdut), terus senjata-senjatan, tanda pangkat dan baju-baju seragam. Dan televisi – terutama infotainment, ternyata sangat ‘berpengaruh’ buat anak-anak itu, waktu diceritain tentang Brimob, keluar celetukan, “Kaya’ Norman.” Waktu bu Polwan cerita tentang pangkat, pas disebut Briptu, ada yang bilang, “Norman.” Terus, ada juga, robot pendeteksi bom, alat pendeteksi kebohongan. Ada area bermain anak-anak juga.




Di lantai 3, dipajang kacamata Dr. Azhari, serpihan-serpihan dari Bom Bali 1, 2 dan JW Marriot. Terus ada miniatur cafĂ© di Bali yang kena bom. Ini lantai yang rada mengerikan buat gue, karena, ada tv yang masang video waktu pelaku bom bunuh diri bikin farewell statement, terus ada ‘adegan’ berdarah-darah dari para korban bom.

Setelah keliling, kita kumpul di auditoriumnya. Mau nonton film tentang kepolisian. Waktu duduk, sebelum film dimulai, Darrell bilang, “Kakak jangan takut ya.” Ehhhh.. begitu lampu dimatiin, Mika langsung nangis dan minta keluar. Yahhhhh…. Pelan-pelan, diajak masuk lagi. Mau sih, tapi dia mau di tempat yang ada cahaya lampunya.

Selesai film, baru acara puncak, yaitu dongeng. Sebelumnya, Paman Gery dan Bubu Mini ngajak nyanyi-nyanyi dulu. Kali ini, dongengnya tentang lebah yang kehilangan sarangnya. Lucu dan sangat menghibur. Bahkan gue pun ikut ketawa-ketawa. Hehehe…


Dongeng selesai, acara pun selesai. Setelah pembagian goodie bag dan lunch box (kali ini dari Cake Storage), semua bersiap-siap pulang. Ow, gak ketinggalan, acara foto-foto sama Paman Gery dan Bubu Mini yang kemarin pake baju polisi.

Sampai jumpa bulan depan lagi… semoga dengan tempat yang makin seru dan heboh… !

= = =

Setelah dongeng, tinggal para orang dewasa yang cape’ dan kelaperan. Nyari makan, tapi gak mau ke mall. Akhirnya, makan di Omah Solo. Bingung mau makan apa, gue milih Selat Solo aja. Yang ternyata, gak cocok dimakan kalo lagi kelaperan. Hehehehe…

My Loooonggg Weekend


Asyik banget bisa libur sampai 4 hari. Dari hari sabtu, minggu, plus senin-nya cuti, dan selasa libur waisak. Meskipun sebagian besar di rumah aja, tapi bener-bener menyenangkan.

- Sabtu, ikutan seminar "Menanamkan Jiwa Entrepreneurship pada Anak & Menuju Kebebasan Financial". Narasumbernya: Dr. Aisyah Dahlan dan Ligwina Hananto, di Kemang Village. Meskipun selesai baru jam 2 siang, tapi asyik banget. Gak ada tuh, seminar yang katanya bikin ngantuk. Fun, penuh becandaan.

- Makan di Ketoprak Ciragil – waks, berempat abis 150ribu, ckckckck.. rada keterlaluan rasanya. Ditambah, gue dapet ‘bonus’ karet gelang di dalam ketoprak. Awalnya, gue pikir itu bihun yang belum mateng, jadinya rada susah digigit. Pas gue keluarin dari mulut.. haaaa.. karet gelang!. Waktu kakak ipar gue bilang ke ibu yang bikin ketoprak, dia hanya bilang, “Oo.. gak sengaja.”

- Minggu, di rumah aja. Pada pergi ke acara kawinan, gue sama Mika di rumah aja.

- Senin, ambil seragam Mika di (calon) sekolahnya. Mika seneng banget. Sampai rumah, kantong seragamnya dibawa-bawa terus. Dan dia bilang ke semua orang, “Ini seragam Mika.”

- Selasa juga di rumah aja

- Nonton film ‘Rio’ sampai 3 kali! Mika ternyata suka ngeliat burung warna biru itu, dan ceritanya juga lucu.

- Menuntaskan baca ‘In A Strange Room’ sama ‘Untuk Indonesia yang Kuat’ (hasil beli di bazaar seminar). Hehehe… buku yang ‘berat’ buat weekend

- Nonton ‘Masterchef’ sama ‘Top Chef’ (terinspirasi buat masak? Belum, tuh.. hehehe)

- Nemenin Mika baca, nonton, main mobil.

- ‘Terinspirasi’ dari Buku Besar-nya, Mika main, ceritanya lagi camping. Celah di sebelah tempat tidur, dibilang sungai. Terus dia duduk di atas tempat tidur, bikin ‘ikan bakar’ pake boneka ikan lumba-lumba sama Nemo, minum es kelapa pake boneka ayam, makan buah dan sayur-mayur pake kartu gambar buah & sayur. Tiba-tiba dia nungging, katanya lagi ambil air sungai buat minum. Terus, guling dijejerin, dan dia lewatin itu guling, katanya, “Mama, pegangin Mika. Mika lagi nyeberang jembatan.

- Ow.. tidak ketinggalan mincing ikan pake guling. Gue disurung sangkutin boneka ikannya di tali guling, terus Mika akan ber’acting’ pura-pura lagi narik pancingnya.

- Mika seneng banget gue di rumah. Lagi main, tiba-tiba nge-gelendot sama gue. Terus bisa tiba-tiba aja nyium gue. Huhuhu.. mama loves you so much, Mika.

- One day, Mika lagi gak mau makan buah, mengingat malem sebelumnya Mika susah ‘pup’, sampai dia nangis, gue tanya, “Tadi Mika gak makan buah?”, terus Mika jawab, “Tapi, barusan pup-nya lancar koq.” Dan… gue hanya bisa tertawa….

Dan, hari ini, kembali ‘bergulat’ dengan rasa malas pas bangun tidur, kembali menghadapi jagorawi yang macetnya makin heboh.

Mika’s Big Book


Gue dapet buku ini dari temen gue di kantor. Tadinya, buku ini mau disumbangin, tapi karena besar dan gak matching dengan buku-buku lainnya, jadilah buku ini ‘teronggok’ tak bertuan di kantor. Gue bilang sama temen gue, “Bukunya buat gue aja ya?” Temen gue bilang, “Dilelang, banyak yang berminat tuh.” Dan entah kenapa, setelah berbulan-bulan dibiarkan begitu aja, temen gue itu bilang, “Nih, Fe, buat Mika aja deh bukunya.” Wahhhh.. tentu saja gue terima dengan sangat senang hati.

Pas gue bawa pulang, Mika juga seneng banget liatnya. Gue aja seneng. Full color, dengan ilustrasi yang penuh juga. Rasanya di setiap sudut ada gambar yang baru dan menarik. Mika pun sering ‘mengarang’ bebas setiap dia liat gambar di buku itu.




Kondisi bukunya sih udah gak mulus. Pinggir-pinggirnya udah bocel-bocel, bagian tengah juga udah robek. Jadi gue pun melakukan’sedikit’ perbaikan biar gak lebih cepet robeknya.


Bahkan, buku besar ini, gak hanya buat baca. Tapi bisa dijadiin perosotan dan tempat ngumpet sama Mika. Kalo lagi baca, bisa tiba-tiba dia berdiriin bukunya, terus bilang, “Mama, yuk kita ngumpet.” Atau, tau-tau, bukunya udah dimiringin, dan Mika bilang, ‘Mama, Mika lagi main perosotan.” Buku besar ini jadi salah satu ‘buku wajib’ dibaca sebelum tidur.

Monday, May 9, 2011

Now Reading: Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng
Pralampita Lembahmata
GPU - Maret 2011
532 halaman

Keluarga Boenarman adalah keturunan Cina Benteng di Tangerang. Leluhur mereka datang dari Tiongkok dan telah berasimilasi dengan penduduk setempat sejak awal abad kelima belas. Kaum peranakan itu mulanya bermukim di kawasan pantai utara, Teluknaga, kemudian menyusuri Cisadane ke pedalaman dan mendirikan Boen Tek Bio pada tahun 1684 sebagai tonggak pertama eksistensi mereka di Tangerang.

Pada suatu ketika Boenarman tersihir oleh pesona bonsai sehingga dia bermimpi untuk membangun sebuah monumen bagi keluarganya dalam wujud sebatang pohon kayu yang dikerdilkan.

Dimulai pada tahun 1909, sebatang hinoki cypress dibonsai dan dirawat dengan telaten. Boenarman berharap pohon kayu kate itu bakal hidup seribu tahun dalam asuhan tangan-tangan keturunannya.

Harapan Boenarman terkabul. Lama setelah dia tiada, bonsai hinoki setia mengiringi keturunannya mengarungi kehidupan penuh drama sepanjang sejarah negeri. Keluarga ini bertahan menempuh era kolonial; terdampar oleh kemelut politik dan sosial; dan diharu biru tragedi rasial. Mereka teguh berdiri laksana bonsai yang tetap subur walau dipasung dalam pot dangkal tanpa ornamen.

Friday, May 6, 2011

'Tukeran' buku



Punya teman yang hobi baca emang asyik, meskipun hanya 'ketemu' di dunia maya. Dulu gue masih sesekali ikutan ngobrol bareng para kubugil, tapi sekarang udah nyaris gak pernah.

Dan, berawal dari saling berkunjung ke blog masing-masing, akhirnya gue malah jadi pinjem-pinjeman buku. Mbak Riana, berbaik hati nawarin untuk minjem buku In a Strange Room karena gue penasaran banget. Plus Bonsai, akhirnya, gue pun tukeran sama buku Water for Elephants dan Room.

Thank you so much, ya, mbak Riana (semoga rasa penasaranku tertuntaskan...)

Movies...


Gue suka banget sama bukunya, dan tentu aja, pengen banget juga nonton filmnya. Semoga main di Indonesia. Dan semoga juga, Robert Pattinson lebih 'enak' diliat daripada di Twilight Saga.

via IMDb

Satu lagi, yang ditunggu-tunggu - Cars 2, rencananya, kalo film ini main di Indonesia, pengen ngajak Mika nonton di bioskop. Secara Mika 'fans' beratnya Lighting McQueen.

Gambar dulu, baru dimasak

Nulis resep ternyata bisa jadi cantik dengan ilustrasi yang cantik-cantik juga. Nemu website They Draw & Cook. Buat gue yang gak bisa masak, ngeliat gambar-gambarnya aja juga menyenangkan. Menghibur mata banget. Emang agak bingung ya kalo mau baca resepnya, tapi gue akui, unik dan kreatif.





Yang hasil karya anak-anak juga ada, di Kids Draw and Cook






Tuesday, May 3, 2011

Now Reading: Ape House

Ape House
Sara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages

From the bestselling author of Water for Elephants comes another immensely engaging novel, about the fascinating world of bonobos …

Isabel Duncan, a scientist at the Great Ape Language Lab, doesn’t understand people, but animals she gets – especially the bonobos. Isabel feels more comfortable in their world than she’s ever felt among humans… until she meets John Thigpen, a very married reporter who braves the ever-present animal rights protesters outside the lab to see what’s really going on inside.

When an explosion rocks the lab, severely injuring Isabel and “liberating” the apes, John’s human interest piece turns into the story of a lifetime, one he’ll risk his career and his marriage to follow. Then a reality TV show, Ape House, featuring the missing apes, debuts under mysterious circumstances and immediately becomes the biggest – and unlikeliest – phenomenon in the history of modern media.

Ape House delivers great entertainment, but it also opens the animal world to us in ways few novels have done, securing Sara Gruen’s place as a master storyteller who allows us to see ourselves as we never have before.

Ape House is gripping, emotionally exhilarating and, by a large margin, the best novel I’ve read in the past 12 months. Or perhaps 24.

A twisting pacy plot…vivid page-turner…mining the same literary vein as Jodi Picoult and T C Boyle who strong, conflicted characters and ethically charged plots deliver brilliant but challenging fiction.’ The Independent

‘Don’t miss your bus top reading this week’s talking point book…it’s a funny, provocative lampoon of pop culture.’ Grazia

‘Sara Gruen has the double gift of writing colourful page-turners and researching off-beat subjects with broad appeal…She is driven by a vision of humanity seen through the lens of what we do to animals.’ Financial Times

‘Propulsive… Gruen writes with the commercial breathlessness of a cozier Dan Brown.’ Entertainment Weekly

‘The biggest accomplishment of Ape House is that it brings bonobos to life. The writing is effortless, as though Gruen sat down and wrote the book in one breezy afternoon.’ Vanessa Woods, New Scientist

‘If you love animals like I do – it’s a must read.’ Ellen de Generes

Monday, May 2, 2011

Now Reading: Scones and Sensibility

Scones and Sensibility
Lindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.

Polly Madassa mungkin gadis dua belas tahun paling romantis di dunia. Dia lebih suka lilin daripada lampu, memilih mesin tik daripada komputer, dan berbicara seperti tokoh-tokoh dalam buku klasik. Terlebih lagi, setelah berulang-ulang membaca Pride and Prejudice karya Jane Austen, Polly merasa dirinya paling paham urusan asmara dan bertekad untuk menjodohkan orang-orang di sekelilingnya.

Ada kakaknya sendiri, Clementine, yang menurut Polly menyia-nyiakan waktu dengan seorang pacar menyebalkan. Ada Mr. Nightquist yang kesepian setelah kematian istrinya. Ada Miss Wiskerton, perawan tua yang tak pernah mengenal cinta. Juga Mr. Fisk, ayah sahabatnya Fran, yang telah tiga tahun sendirian. Polly hendak mencarikan cinta sejati untuk mereka, karena yakin bahwa itu adalah takdirnya.

Maka, musim panas kali ini dihabiskan Polly dengan merencanakan perjodohan paling romantis tanpa menyadari bahwa terkadang cinta punya cara sendiri untuk bersemi ...

My Weekend

Tujuan utama ke mall, adalah ke Gramedia, gue udah pengen cari bacaan baru (baca: buku baru), soalnya akhir-akhir ini gue lebih banyak baca buku yang udah lama banget ada di lemari buku gue tapi belum gue baca. Lagipula gue janji sama Mika mau cari buku National Geographic Kids: Truck.

Di Gramedia PIM, sembari gue keliling nyari buku, Mika duduk di bagian buku anak-anak, ditemenin sama mbak-nya. Gue kasih buku yang bikin Mika betah duduk. Liat-liat, dari rak ke rak. Koq, gak ada yang bener-bener bikin gue ‘tergerak’. Akhirnya, gue ambil ‘Coming Home’- Sefryana Khairil, sama ‘Scones and Sensibility’ – Lindsay Eland. Gak ketemu National Geographic Kids: Truck, tapi malah ada yang Train – katanya ini yang paling baru.

Abis dari Gramedia, mampir ke Periplus, gak ada juga si buku Truck, tapi ketemu yang Penguin. Ini juga yang sering disebut-sebut Mika. Di sini gue juga beli Ape House – Sara Gruen.

Sebenernya gue pengen banget beli In a Strange Room – Damon Golgut. Biar mbar Riana bilang buku ini terlalu ‘gelap’ buat gue, gue sih pengen liat dulu ‘wujud’nya, Hehehe… biasanya kalo gue udah pengen, gue malah jadi penasaran banget kalo gak dapet. Yah, weekend ini, santai-santai dulu dengan dua buku ringan.

Just like a fairy tale…

Hari Jum’at, tanggal 29 April 2011, tentu saja gue gak mau ketinggalan dengan kehebohan seputar The Royal Wedding. Tapi, sayang, pas akhir bulan, pas banyak kerjaan, jadi gue gak mungkin sakit ‘mendadak’, demi bolos dan nonton siaran langsungnya. Jadi, di sela-sela waktu bekerja, gue terus ‘memantau’ lewat internet. Tau-tau, temen gue ngirimin link untuk nonton streaming-nya via usstream dan, hehehe.. setiap 5 menit, gue ngeliat terus – nungguin Kate Middleton muncul dengan gaun pengantin yang sangat dirahasiakan itu.

Menjelang prosesi pernikahan, gue ke pantry, buat nonton dari tv, dan ternyata di pantry udah banyak temen-temen gue yang nonton – termasuk beberapa boss bule… ya udah, gue ikutan aja.






Kate-nya cantik, meskipun gaunnya gak heboh, tapi tetap cantik. William… hmmm… ganteng sih… tapi, kenapa, oh, kenapa, kepalanya nyaris botak? Apa di London gak ada teknologi ‘cangkok rambut’? Hehehe…

Sampe rumah, sempet nonton ulangannya, karena di kantor gak sempet liat ‘kissing’ yang ditunggu-tunggu seluruh dunia itu, nah… di rumah, akhirnya liat juga…

Berasa lagi baca cerita ‘putri-putrian’ jaman dulu… naik kereta kencana, married sama Prince Charming… just like in a fairy tale…

image:
via Lovely Little Things
via tinywhitedaisies