Thursday, August 19, 2010

Now Reading: The Miraculous Jorney of Edward Tulane

The Miraculous Jorney of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)
Kate DiCamillo @ 2006
Bagram Ibatoulline (Ilustrasi)
Dini Pandia (Terj.)
GPU - November 2006
208 Hal.

Dahulu kala, di rumah di Egypt Street, tinggallah kelinci porselen bernama Edward Tulane. Kelinci itu sangat bangga pada dirinya sendiri, dan memang beralasan: ia dimiliki anak perempuan bernama Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya.

Lalu, suatu hari, ia hilang.

Maka dimulailah perjalanan luar biasa Edward Tulane: dari dasar laut ke jala nelayan, dari puncak gunung sampah ke dekat api unggun gelandangan, dari tempat tidur anak yang sakit keras ke jalan-jalan kota Memphis. Dan selama perjalanannya itu, ia jadi tahu---bahwa hati yang paling rapuh sekalipun dapat belajar menyayangi, kehilangan, dan menyayangi lagi.

Notes: iseng-iseng gue beli buku ini di Trimedia - Mall Ambasador. Hanya dengan 15ribu saja. Sebetulnya masih banyak buku-buku Gramedia lain yang diobral. Tapi hanya ini yang menarik perhatian.

Tenda Sirkus yang 'Gagal'

Gue mendapat ide untuk bikin tenda sirkus dari blog dreamesh. Gue pikir, "Wah, kaya'nya seru nih, kalo bisa main sirkus-sirkusan di rumah." Karena setelah ngeliat sirkus beneran, gue pengen Mika juga bisa seru mainin di rumah.

Jadilah gue persiapkan semua peralatannya, karton putih yang udah di-print pola tenda sirkus dan binatang-binatangnya, lem, krayon merah, gunting. Gak ketinggalan print out instruksi cara pembuatan tenda sirkus itu. Mulailah gue 'bekerja'. Sementara Mika sibuk dengan mainannya atau corat-coret di buku gambar, gue sibuk ngewarnain tenda sirkus itu.




Ya...ya... gue memang suka 'berharap' terlalu banyak. Padahal gue tau sendiri, kalo gue bukan orang yang 'terampil' dan rapi kalo ngerjain prakarya (hahahah.. sejak jaman SD dulu, prakarya gue selalu berantakan!). Dan betul, atap tenda udah ok... tapi begitu bikin badan tendanya, o...o.... ternyata karton yang gue pakai terlalu tebal, akhirnya tendanya gak bisa melingkar dengan sempurna. Yaahhhh... tendanya gagal deh.

Malah akhirnya, atap tenda dipakai jadi topi-topian sama Mika. Hehehe... at least, ada juga yang bisa di'gunakan' Mika buat main.


Tenang, Mika... next time will be better, and Mama will find another great idea!

Wednesday, August 18, 2010

Menu Buka Puasa: Sushi...!!!

Minggu lalu, gue pengen banget makan sushi. Pas abis dari BCA GKBI, pas di sebelah atm-nya ada Coffee Bean. iseng gue liat, eh... masih ada sushi-nya. Meskipun bukan seperti yang gue bayangkan, tapi daripada gue terbayang-bayang terus, ya udah deh, gue beli deh sushi yang juga emang tinggal satu-satunya, namanya Nishiki Roll.


Pas buka, setelah minum sama makan kurma, gue mulai deh makan sushinya. Hmmm.. tapi memang gak seenak yang gue bayangkan, tapi cukuplah 'memuaskan' lah... Hehehe.. daripada gak sama sekali.


Breakfast Time




Tadi pagi, pas turun ke bawah, sambil digendong, Mika bilang, "Mika mau makan." Sampai di bawah, buru-buru dia minta diturunin, terus duduk di kursi makan orang dewasa. "Mika mau duduk di sini," gitu katanya. Karena belum sampai, jadinya harus ditinggi pake bantal. Dan semenjak bulan puasa, kata-kata pertama Mika kalo bangun, "Udah terang. Mau buka puasa."

Terus, tadi pas ditanya, "Mika makan roti pake apa?" Mika jawab, "Pake meisjes ceres." Hehehe....

Mika in Red & White




... memperingati 17 Agustusan di Legenda Wisata, kebetulan di kamarnya Darrell ada bendera Merah Putih gede dipasang di jendela. Mika iseng main-mainin benderanya. Dan kebetulan, bajunya Mika merah putih juga.


Monday, August 16, 2010

Now Reading: Negeri 5 Menara

Negeri 5 Menara
Sebuah Novel yang Terinspirasi Kisah Nyata
A. Fuadi @ 2009
GPU - Cet. 7, Juni 2010
432 hal.

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata
belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.

Nellie the Elephant

Gue baru nyadar ada lagu baru di 'playlist'-nya Mika. Dan lagunya seru banget, Mika bahkan bilang, "Lagunya lucu, ya." Terus, Mika akan lompat-lompat ngikutin lagunya. Judulnya 'Nellie the Elephant'. Dan emang.. lagunya bikin semangat. Gue berasa lagi nonton sirkus.



Nellie The Elephant
- Watch more Videos at Vodpod.


Nellie the Elephant
by Toy Dolls

To Bombay
A traveling circus came
They brought an intelligent elephant
And Nellie was her name
One dark night
She slipped her iron chain
And off she ran to Hindustan
And was never seen again

Ooooooooooooo...

Nellie the Elephant packed her trunk
And said goodbye to the circus
Off she went with a trumpety-trump
Trump, trump, trump
Nellie the Elephant packed her trunk
And trundled back to the jungle
Off she went with a trumpety-trump
Trump, trump, trump

Night by night
She danced to the circus band
When Nellie was leading the big parade
She looked so proud and grand
No more tricks
For Nellie to perform
They taught her how to take a bow
And she took the crowd by storm

The head of the herd was calling
Far, far away
They met one night in the silver light
On the road to Mandalay
So Nellie the Elephant packed her trunk
And said goodbye to the circus
Off she went with a trumpety-trum
Trump, trump, trump

Ooooooooooooo...

Nellie the Elephant packed her trunk
And said goodbye to the circus
Off she went with a trumpety-trump
Trump, trump, trump
Nellie the Elephant packed her trunk
And trundled back to the jungle
Off she went with a trumpety-trump
Trump, trump, trump