Monday, March 21, 2011

My Weekend

via bloom

Setelah sebulan gak ke PIM, hari Sabtu kemarin akhirnya jalan-jalan ke PIM lagi. Hehehe.. bukan apa-apa, kalo gak ada perlu, rasanya males juga ke mall. Cape' aja mondar-mandir keliling mall tapi gak ada tujuan. Kebetulan mau cari kado untuk Nasywan, jadilah kita ke PIM.

Sabtu pagi dimulai dengan ‘membongkar’ celengan Mika. Karena udah penuh, gak bisa diisi lagi dan gue belum bawa yang baru lagi, akhirnya Mika membongkar celengan pertamanya. Dan, begitu liat koin-koin bertebaran, Mika bilang, “Mau beli mobil yang besar sama yang kecil, banyak-banyak.” Hehehe… ternyata, setelah diitung-itung, dapetnya lumayan juga. Tapi, biasa deh, Mika… begitu kita mau ngitung, koin-koinnya diacak-acak lagi. Terpaksa, ngitungnya ngumpet-ngumpet, gue yang pilihin koinnya, terutama yang 500an sama 1,000an. Biar Mika juga gak bingung ke mana ‘ilangnya’ isi celengannya, sengaja yang 100an sama 200an ditinggalin dulu.

Di jalan, Mika lagi seneng bacain huruf-huruf dan angka-angka. Di parkiran, dia sibuk ‘menghafal’ tempat parkir mobil. Masuk ke PIM, ada kereta lewat, langsung seneng banget. Gue bilang, “Nanti ya, naik keretanya, Mika makan dulu.” Tapi, Mika tetap ngacir, jalan ngikutin kereta. Untungnya Mika gak maksa pengen naik kereta saat itu juga. Tapi, tetap aja, makannya gak konsentrasi, gara-gara ngeliat anak-anak kecil lain pada main-main. Jadinya, hanya beberapa suap, tapi Mika pun main di playground depan Hoka Hoka Bento.

Abis itu, nyari kado Nasywan, sekalian mau ‘belanjain’ uang tabungan Mika. Dapet deh, tractor Caterpillar. Gue hanya ‘nombok’ sedikit. Hehehe… Setelah nyari mainan, Mika mulai cape’. Dia ‘manjat’ sendiri ke stroller-nya dan minta susu. Gak lama, tidur sendiri deh.

Ke Gramedia sama Periplus. Tapi lagi gak mood beli buku. Di gramedia juga gak ada yang menarik perhatian gue, akhirnya gue hanya beli National Geographic Kids – yang kebetulan lagi promo untuk edisi lama.

Di Periplus, ada beberapa buku yang masuk daftar pengen dibaca (tentunya dibeli dulu.. hehehe): My Name is Memory, Fang – James Patterson, sama ada beberapa lagi yang koq gue lupa judulnya.. (harus dicatet lain kali…)

Setelah muter-muter gak jelas, mulai cape’, siap-siap pulang. Ehhh.. Mika main dulu lagi. Gue bilang, “Mika, kita pulang dulu ya. Kan mau main tractor barunya di rumah.” Dan, Mika langsung nurut, meskipun pas denger suara kereta api, sempet ‘ragu-ragu’ sedikit, Mika bilang, “Tuh, ada suara kereta api.”

Di jalan, ternyata papa iseng pengen mampir ke Legenda Wisata. Jadilah kita di sana sampai malem. Hujan deras. Rencananya mau liat ‘super moon’ gak jadi. Padahal Mika sama Darrell udah heboh, berdua manggil-manggil, “Super moooon… Super bulannnn….!”

Sampai rumah, udah cape’ banget. Dan malemnya tidur cepet. Gak pake baca buku yang banyak-banyak dulu… 

Hari Minggu, di rumah aja. Mika bolak-balik nonton ‘Mater’s Tall Tales’, main tractor barunya di kamar, ‘ngobrol’ sama mobil-mobilnya. Gue nemenin Mika main di kamar sambil baca buku, ada kalanya Mika ‘seolah’ pengen gue ikut main juga. Jadi dia deketin gue, ngasih buku ke gue, “Mama tolong bacain.” Atau dia pura-pura jatuh, terus bilang, “Mama… Mika jatuh. Tolong angkatin Mika.” Yang lebih ‘heboh’ lagi, dia lari-lari sendiri di kamar, dan gak lama bilang, “Mama, kejer-kejer Mika.” Haiii ya… gue pun lari-lari kecil, ngejerin Mika yang minta ditangkep.

Malemnya, kembali baca buku yang ‘banyak-banyak’ sebelum tidur.

Thursday, March 10, 2011

Now Reading: Of Bees and Mist

--- buku pinjeman lagi. buat weekend :)

Of Bees and Mist
Erick Setiawan
Gagas Media
580 hlm

Meridia jatuh cinta pada Daniel saat masih berumur enam belas tahun dan dia tahu hidupnya akan berubah sejak hari itu.

Ketika laki-laki itu melamarnya, Meridia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena punya alasan untuk keluar dari rumah. Tapi saat menjalani kehidupan sebagai pengantin baru di rumah mertua, dia mendapati rahasia tentang masa lalu keluarga itu yang selama ini tersimpan. Dan lebih mengejutkan lagi, Meridia juga menemukan kenyataan tak terduga tentang ‘keluarga baru’-nya yang membuat dia kini mempertanyakan cinta, keberanian, dan akal sehatnya....

*

Of Bees and Mist adalah karya debut mengagumkan Erick Setiawan, penulis muda kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Amerika Serikat. Novel ini pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat dan mendapatkan respons positif dari para kritikus. Of Bees and Mist menjadi finalis QPB New Voices Award (2010) dan longlisted bagi penghargaan International IMPAC Dublin Literary Award (2011). Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.


Monday, March 7, 2011

Now Reading: 1 Perempuan 14 Laki-Laki

Asyikkk... dapet pinjeman buku. Lumayan buat selingan baca Suite Française.
----
1 Perempuan 14 Laki-Laki
Djenar Maesa Ayu
GPU - Januari 2011
140 Hal.

Perlu 14 laki-laki untuk menulis buku ini dan hanya 1 perempuan untuk mengisahkannya...

"Kita bisa memesan bir, namun kita tak bisa memesan takdir."
Agus Noor

"Onggokan baju-baju kami tengah berpelukan di atas lantai."
Arya Yudistira Syuman

"Sejak Mas Gun menyandang gelar anumerta dalam urusan ranjang, ia selalu gugur sebelum berperang."
Butet Kartaredjasa

"Masih jelas benar mata-mata tanpa bola mata hitam merubuhkan patung. Membakar kampung."
Enrico Soekarno

"Tanpa hilang senyum, ia minta saya berakting di depan kamera untuk sebuah adegan mesum."
Indra Herlambang

"Kadang sunyi. Kadang ramai seperti adegan ranjang yang melibatkan borgol, topeng, dan cemeti."
JRX

"Melongo di depan buku berdebu nostalgia masa lalu kala masih berseragam putih biru. Buat gue it sucks!"
Lukman Sardi

"Sepasang jari bersayap, terbang mengitari seputar celana yang dipakai laki-laki dengan dada telanjang."
Mudji Sutrisno

"Ayu tak segan mengajak kencan duluan. Dan laki-laki tak kuasa menolak seperti kucing disodori ikan."
Nugroho Suksmanto

"Antonio tidak ingin perlahan mati. Tidak tanpa Roselyn, yang ia tahu akan berakhir sunyi."
Richard Oh

"Aku mencintaimu maka aku ada! Aku mencintaimu maka aku membunuhmu!"
Robertus Robet

"Setiap kali kita bertemu, aku menabung rindu."
Sardono W. Kusumo

"Di tangan Raditya, gitar jadi berbicara. Dan saat Raditya memetik putingnya, Prita melambung ke angkasa."
Sujiwo Tejo

"Tubuh saya seakan lumpuh saat tubuhnya menyatu ke tubuh saya seluruh dan penuh."
Totot Indrarto


My Weekend

via tinywhitedaisies

Sabtu - Minggu, Fayyaz & Nasywan nginep di rumah. Tentu aja, Mika seneng banget. Begitu hari Jum'at malem, mereka dateng, Mika langsung heboh, tas mainannya Fayyaz & Nasywan langsung dibongkar (padahal sih, isinya mainan mobil yang mirip-mirip seperti punya Mika).

Sebelum tidur, sempet ada 'konser mini', Mika main gitar, Fayyaz nyanyi-nyanyi gak jelas, Nasywan main maracas. Mika heboh sendiri, lompat-lompat udah kaya' rocker.

Hari Sabtu berenang di Kota Wisata. Cuaca cukup mendukung. Begitu nyemplung ke kolam, Mika langsung heboh juga. Sementara abang-abangnya, sempet takut, tapi gak lama takutnya. Sempet naik sebentar, gara-gara gerimis. Terus, Darrell & Queency dateng. Berenang jadi makin heboh dan lebih lama dari biasanya. Mika bolak-balik mau pipis. Maunya pipis di 'tulilet', gak mau di pinggir kolam berenang.

Sempet nyoba whirlpool, Mika bilang, "Iiiihhh.. enak.. hanget..."

Di kamar mandi, terjadi kehebohan, biasalah, kalo yang empat ini udah kumpul, rameeeee banget! Di mobil menuju Legenda Wisata, juga heboh di mobil. Apalagi pas main di Legenda Wisatanya, hebohhhh juga. Gak ada yang tidur siang. Abis main di luar, makan, terus pada main di kamar. Sore-sore, udah teler semua. Malah, Nasywan tidur pas lagi disuapin makan. Mika ketiduran di mobil, sampai pagi.

@Sentul City - pada ngeliat ke bawah karena ada kucing

Hari Minggu pagi, gue bangunin Mika, mau diajak main bola sama abang-abangnya. Eh, Mika bilang, "Mika masih ngantuk. Mika mau bobo' aja." Ehhh.. yang bikin minggu pagi jadi gak asyik, pake acara mati lampu. Gak ada hujan, gak ada petir, mati lampu aja gitu.

Sempet nonton Happy Feet sebentar setelah lampu idup. Terus karena pada bosen, semua menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Siap-siap mau lunch. Kali ini, kita ajak anak-anak itu ke Bakmi Golek di Sentul City. Hehehe.. di Jakarta sih ada, tapi biar rada jauhan dan liat pemandangan dikit.

Setelah makan, muter-muter sebentar di Sentul City. Terus nganter Fayyaz sama Nasywan ke rumahnya.

Malemnya pas main, karena ngantuk, Mika jadi rewel. Kesenggol sedikit mainannya, salah, mobilnya miring dikit, nangis.

Sementara gue sendiri, progress membaca Suite Française rada tersendat dan lamban banget. Bukan karena ceritanya gak bagus atau membosankan, tapi karena bukunya yang lumayan 'susah', isi yang gak ceria dan waktu yang gak banyak, membuat gue rada gak terlalu semangat baca buku ini. Tapi, gue malah 'menambah' bacaan buat malem-malem dengan baca Roro Mendut yang setebal bantal... :)



Tuesday, March 1, 2011

Now Reading: Suite Française

Suite Française
Irène Némirovsky @ 1942
Translated by Sandra Smith
Vintage International Edition - 2007
431 pages

Beginning in Paris on the eve of the Nazi occupation in 1940. Suite Française tells the remarkable story of men and women thrown together in circumstances beyond their control. As Parisians flee the city, human folly surfaces in every imaginable way: a wealthy mother searches for sweets in a town without food; a couple is terrified at the thought of losing their job, even as their world begin to fall apart. Moving on to a provincial village now occupied by German soldiers, the locals must learn to coexist with the enemy - in their town, their homes, even their hearts

---

Irène Némirovsky was born in Kiev in 1903, the daughter of a successful Jewish banker. In 1918 her family fled the Russian Revolution for France where she became a bestselling novelist, author of David Golder, Le Bal, The Courilof Affair, All Our Worldly Goods and other works published in her lifetime or soon after, such as the posthumously published Suite Française and Fire in the Blood. The Dogs and the Wolves, now appearing for the first time in English, was published in France in spring 1940, just months before France fell to the Nazis. She was prevented from publishing when the Germans occupied France and moved with her husband and two small daughters from Paris to the safety of the small village of Issy-l’Evêque (in German occupied territory). It was here that Irène began writing Suite Française. She died in Auschwitz in 1942.

---

Semoga gue berhasil menyelesaikan buku ini... :)


Counting down...

via etsy

to March 31, 2011 ...