Friday, May 27, 2011

Now Reading: Prophecy of The Sisters

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Sepeninggal sang ayah, serangkaian kejadian aneh menimpa Lia Milthorpe dan saudara kembarnya, Alice.

Diawali munculnya sebuah tanda di pergelangan tangan Lia dan berubahnya sikap Alice, mereka baru sadar terlibat ramalan kuno yang menyebabkan mereka menjadi musuh satu sama lain.

Dengan bantuan dua sahabatnya, Sonia dan Luisa, Lia mempelajari isi ramalan kuno dan baru menyadari malapetaka yang dapat ditimbulkannya. Mereka harus mencari empat Kunci yang dapat mencegah malapetaka itu. Dan Lia harus segera bertindak, sebelum Alice merintanginya…

Wednesday, May 25, 2011

[Travel Fantasy] Guernsey Island

Membaca The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, gue jadi penasaran seperti apa Guernsey itu. Baru sekali ini gue mendengar nama tempat yang letaknya di laut ini. Jadi isenglah gue browsing, nyari-nyari foto-fotonya Guernsey. Duh, jadi pengen 'nyemplung', berenang di pantai...






image via: Guernsey Images, Sea Guernsey, Visit Guernsey

Monday, May 23, 2011

My Weekend


Weekend ini 'seru' menurut gue. Mendadak, ke bandung. Papa ngajak besuk temennya di rumah sakit di bandung, gue gak nyangka sih Mama bakal mau. Mengingat Papa baru bilang malem-malem. Eh, pagi-pagi jam 6, kamar gue diketok, Mama bilang, jadi ke Bandungnya. Ya udah, buru-buru mandi, nyiapin tas dan peralatan Mika. Pas gue lagi mandi, ternyata Mika bangun dan ngegedor pintu kamar mandi.

Jam 7, kita berangkat. Di perjalanan, Mika sibuk lihat kiri-kanan. Jam 10an, sampai di Bandung. Langsung menuju rumah sakit dulu. Gue sama Mika gak ikutan naik. Jadi nunggu di lobby aja. Rumah Sakit 'Sentosa', sepertinya sih rumah sakit baru. Pengen ngajak Mika nunggu di 'Healing Garden'-nya, tapi, panas, ya udah, kembali ke lobby aja.

Jam 12an, kita menuju tempat makan siang, di Roemah Nenek. Santai-santai di sana. Sambil Mika main-main. Abis makan, 'menengok' Factory Outlet. Ke 'Secret' aja. Karena emang gak niat mau belanja, di FO pun akhirnya liat-liat, gak 'napsu' gitu.

Gue cukup surprise dengan Bandung yang tumben gak macet. Mungkin udah pada menyerbu pas long weekend kemarin kali ya.

Abis dari Kartika Sari, langsung menuju Jakarta lagi. Sampai rumah, pas jam 6 sore. Meskipun cape', tapi Mama pun bilang, "Seru juga ke Bandung mendadak begini."

Hari Minggu di rumah aja, kebetulan kakak gue ke rumah, jadi Mika juga sibuk main sama Darrell. Gue santai-santai aja sambil baca 'The Guernsey Literary & Potato Peel Pie Society'.

Friday, May 20, 2011

Now Reading: The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

A moving tale of post-war friendship, love and books, The Guernsey Literary and Potato Peel Society is a captivating and completely irresistible novel of enormous depth and heart.

It's 1946, and as Juliet Ashton sits at her desk in her Chelsea flat, she is stumped. A writer of witty newspaper columns during the war, she can't think of what to write next. Out of the blue, she receives a letter from one Dawsey Adams of Guernsey - by chance he's acquired a book Juliet once owned - and, emboldened by their mutual love of books, they begin a correspondence.

Dawsey is a member of the Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, and it's not long before the rest of the members write to Juliet - including the gawky Isola, who makes home-made potions, Eben, the fisherman who loves Shakespeare, and Will Thisbee, rag-and-bone man and chef of the famous potato peel pie. As letters fly back and forth, Juliet comes to know the extraordinary personalities of the Society and their lives under the German occupation of the island. Entranced by their stories, Juliet decides to visit the island to meet them properly - and unwittingly turns her life upside down.

Gloriously honest, enchanting and funny, The Guernsey Literary and Potato Peel Society is sure to win your heart.

'I can't remember the last time I discovered a novel as smart and delightful as this one. Treat yourself to this book, please - I can't recommend it highly enough.' Elizabeth Gilbert, author of the international bestseller Eat, Pray, Love.

Thursday, May 19, 2011

[Movie] Rio

Weekend kemarin, film Rio ini ditonton sampai 3 kali – 3 hari berturut-turut. Pertama, mungkin karena belum ngerti jalan ceritanya, Mika masih setengah-setengah nontonnya. Kedua dan ketiga, nonton sampai habis dan sesekali ikut cekikikan. (Apakah gue bukan ibu yang baik karena membiarkan anaknya nonton?)

Rio ini bercerita tentang seekor burung Macaw bernama Blu (kebetulan bulunya memang berwarna biru). Ia berasal dari hutan tropis di daerah Brazil. Sepertinya, Blu ini ‘sebatang kara’, karena dia hanya di sarangnya sendirian, ngeliatin sesama burung kecil lainnya lagi belajar terbang. Tapi, sebelum sempat belajar terbang, Blu kecil keburu ditangkap sama orang-orang tak bertanggung jawab, dan dibawa ke Amerika.

Gak sengaja, kotak tempat Blu disimpan jatuh di depan rumah seorang gadis bernama Linda. Linda inilah yang akhirnya merawat Blu hingga dewasa. Sampai dewasa pun Blu gak bisa terbang. Sampai-sampai ia mengira dirinya adalah seekor burung onta, karena berbangsa burung, tapi gak bisa terbang.

One day, seorang pemuda bernama Tulio datang dan meminta Linda untuk membawa Blu ke Brazil. Mengingat Blu adalah burung Macaw jantan satu-satunya dan kalau gak segera dicarikan pasangan, ada kemungkinan spesies mereka akan punah.

Berangkatlah mereka ke Brazil – dan di laboratorium Tulio, Blu ‘dipertemukan’ dengan seekor burung Macaw betina bernama Jewel.

Sesimple itu kah? Gak dong…. Mereka berdua terlibat petualangan, menyelamatkan diri dari penjual burung-burung illegal yang terus berusaha menangkap mereka. Mereka harus ‘berlari-lari’, karena Blu gak bisa terbang, sementara kaki mereka dirantai. Mau gak mau, Jewel harus ngikutin Blu untuk lewat jalan darat.

Yang gue suka dari film ini, selain emang ceritanya yang lucu, adalah ngeliat burung-burung yang warna-warni. Lagi pada nyanyi-nyanyi di hutan. Belum lagi ngeliat anak-anak burung yang bulet-bulet menggemaskan.

Wednesday, May 18, 2011

Weekend (tanpa) ke Mall (4): Klub Dongeng FeMale (lagi)


Acara Klub Dongeng FeMale Radio, jadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Tempatnya kali ini di Museum Polri. Gue bilang ke Mika, kalo mau ketemu sama Paman Gery dan Bubu Mini lagi. Terus, nanti mau lihat helicopter, gue bilang, “Nanti Mika ketemu sama pak polisi, sama bu polisi, terus bisa foto di deket helicopter.”

Hujan turun waktu kita sampai di Museum Polri, Mika dan Darrell yang gak peduli dengan hujan, pengennya langsung main di deket helicopter. Pintu museum dibuka sekitar jam 9an. Museum ini terdiri dari 3 lantai. Di lantai pertama, begitu kita masuk, ada mobil polisi yang tentu saja langsung jadi tempat foto-foto.



Dibagi jadi 3 kelompok, anak-anak diajak keliling museum. Masing-masing dipandu sama satu polwan. Selama berkeliling, ada pasangan kakak-adik yang ‘mengasuh’ Mika sama Darrell. Dari pas baris, mereka berdua yang gandeng Mika dan Darrell – hehehe.. yang karena belum ngerti jadi suka ‘bergerak’ sendiri. Si adik, yang namanya Gabriella, yang nemenin Mika. Kalo Mika keluar barisan sedikit, si Gabriella ini langsung gandeng (bahkan gendong) Mika masuk barisan lagi. Sayang, waktu pulang, gak sempet saling pamit lagi.

Gue lupa sih setiap lantainya ada apa :D. Tapi, yang pasti, kita bisa liat kendaraan polisi jaman dulu, mulai dari motor sampai sepeda kumbang. Foto-foto di dinding, seperti foto kapolri dari masa-masa, foto penjahat yang lagi ditangkap (ada fotonya Jhony Indo, Kusni Kasdut), terus senjata-senjatan, tanda pangkat dan baju-baju seragam. Dan televisi – terutama infotainment, ternyata sangat ‘berpengaruh’ buat anak-anak itu, waktu diceritain tentang Brimob, keluar celetukan, “Kaya’ Norman.” Waktu bu Polwan cerita tentang pangkat, pas disebut Briptu, ada yang bilang, “Norman.” Terus, ada juga, robot pendeteksi bom, alat pendeteksi kebohongan. Ada area bermain anak-anak juga.




Di lantai 3, dipajang kacamata Dr. Azhari, serpihan-serpihan dari Bom Bali 1, 2 dan JW Marriot. Terus ada miniatur cafĂ© di Bali yang kena bom. Ini lantai yang rada mengerikan buat gue, karena, ada tv yang masang video waktu pelaku bom bunuh diri bikin farewell statement, terus ada ‘adegan’ berdarah-darah dari para korban bom.

Setelah keliling, kita kumpul di auditoriumnya. Mau nonton film tentang kepolisian. Waktu duduk, sebelum film dimulai, Darrell bilang, “Kakak jangan takut ya.” Ehhhh.. begitu lampu dimatiin, Mika langsung nangis dan minta keluar. Yahhhhh…. Pelan-pelan, diajak masuk lagi. Mau sih, tapi dia mau di tempat yang ada cahaya lampunya.

Selesai film, baru acara puncak, yaitu dongeng. Sebelumnya, Paman Gery dan Bubu Mini ngajak nyanyi-nyanyi dulu. Kali ini, dongengnya tentang lebah yang kehilangan sarangnya. Lucu dan sangat menghibur. Bahkan gue pun ikut ketawa-ketawa. Hehehe…


Dongeng selesai, acara pun selesai. Setelah pembagian goodie bag dan lunch box (kali ini dari Cake Storage), semua bersiap-siap pulang. Ow, gak ketinggalan, acara foto-foto sama Paman Gery dan Bubu Mini yang kemarin pake baju polisi.

Sampai jumpa bulan depan lagi… semoga dengan tempat yang makin seru dan heboh… !

= = =

Setelah dongeng, tinggal para orang dewasa yang cape’ dan kelaperan. Nyari makan, tapi gak mau ke mall. Akhirnya, makan di Omah Solo. Bingung mau makan apa, gue milih Selat Solo aja. Yang ternyata, gak cocok dimakan kalo lagi kelaperan. Hehehehe…

My Loooonggg Weekend


Asyik banget bisa libur sampai 4 hari. Dari hari sabtu, minggu, plus senin-nya cuti, dan selasa libur waisak. Meskipun sebagian besar di rumah aja, tapi bener-bener menyenangkan.

- Sabtu, ikutan seminar "Menanamkan Jiwa Entrepreneurship pada Anak & Menuju Kebebasan Financial". Narasumbernya: Dr. Aisyah Dahlan dan Ligwina Hananto, di Kemang Village. Meskipun selesai baru jam 2 siang, tapi asyik banget. Gak ada tuh, seminar yang katanya bikin ngantuk. Fun, penuh becandaan.

- Makan di Ketoprak Ciragil – waks, berempat abis 150ribu, ckckckck.. rada keterlaluan rasanya. Ditambah, gue dapet ‘bonus’ karet gelang di dalam ketoprak. Awalnya, gue pikir itu bihun yang belum mateng, jadinya rada susah digigit. Pas gue keluarin dari mulut.. haaaa.. karet gelang!. Waktu kakak ipar gue bilang ke ibu yang bikin ketoprak, dia hanya bilang, “Oo.. gak sengaja.”

- Minggu, di rumah aja. Pada pergi ke acara kawinan, gue sama Mika di rumah aja.

- Senin, ambil seragam Mika di (calon) sekolahnya. Mika seneng banget. Sampai rumah, kantong seragamnya dibawa-bawa terus. Dan dia bilang ke semua orang, “Ini seragam Mika.”

- Selasa juga di rumah aja

- Nonton film ‘Rio’ sampai 3 kali! Mika ternyata suka ngeliat burung warna biru itu, dan ceritanya juga lucu.

- Menuntaskan baca ‘In A Strange Room’ sama ‘Untuk Indonesia yang Kuat’ (hasil beli di bazaar seminar). Hehehe… buku yang ‘berat’ buat weekend

- Nonton ‘Masterchef’ sama ‘Top Chef’ (terinspirasi buat masak? Belum, tuh.. hehehe)

- Nemenin Mika baca, nonton, main mobil.

- ‘Terinspirasi’ dari Buku Besar-nya, Mika main, ceritanya lagi camping. Celah di sebelah tempat tidur, dibilang sungai. Terus dia duduk di atas tempat tidur, bikin ‘ikan bakar’ pake boneka ikan lumba-lumba sama Nemo, minum es kelapa pake boneka ayam, makan buah dan sayur-mayur pake kartu gambar buah & sayur. Tiba-tiba dia nungging, katanya lagi ambil air sungai buat minum. Terus, guling dijejerin, dan dia lewatin itu guling, katanya, “Mama, pegangin Mika. Mika lagi nyeberang jembatan.

- Ow.. tidak ketinggalan mincing ikan pake guling. Gue disurung sangkutin boneka ikannya di tali guling, terus Mika akan ber’acting’ pura-pura lagi narik pancingnya.

- Mika seneng banget gue di rumah. Lagi main, tiba-tiba nge-gelendot sama gue. Terus bisa tiba-tiba aja nyium gue. Huhuhu.. mama loves you so much, Mika.

- One day, Mika lagi gak mau makan buah, mengingat malem sebelumnya Mika susah ‘pup’, sampai dia nangis, gue tanya, “Tadi Mika gak makan buah?”, terus Mika jawab, “Tapi, barusan pup-nya lancar koq.” Dan… gue hanya bisa tertawa….

Dan, hari ini, kembali ‘bergulat’ dengan rasa malas pas bangun tidur, kembali menghadapi jagorawi yang macetnya makin heboh.