Akhirnya, ‘berhasil’ ngajak Mika nonton di
bioskop. Selama ini, Mika suka gak mau, karena masih suka rada takut kalau
gelap. Tapi, karena ini kita nonton bareng-bareng, Mika pun jadi excited untuk
nonton Monster University. Bahkan seminggu sebelumnya,
gue kasih liat gambar poster MU di koran, terus ngajak Mika bikin gambar
monster yang lucu-lucu.
Kesan pertama waktu masuk ke dalam studio-nya,
Mika bilang, “Dingin banget. Lain kali kalo nonton lagi harus bawa jaket ya,
Mama.”
Kalau awalnya, gue pikir Monster University
adalah sekuel dari Monster Inc., ternyata justru ini ada prekuel-nya. Mika
Wazowski yang sering dianggap ‘sebelah mata’ oleh monster lain – katanya ia tak
cukup menakutkan. Padahal dibutuhkan monster yang bisa mengumpulkan jeritan
anak kecil yang paling lantang agar bisa menjadi sumber energi di negeri para
monster ini. Ketika berkunjung ke Monster Inc., terinspirasilah Mika oleh salah
satu monster, yang membuatnya bertekad menuntut ilmu di Monster University
dan menjadi the Scare Monster.
Tapi dibutuhkan perjuangan yang panjang, karena
lagi-lagi, Mika menjadi bahan olok-olokan di kampus itu. Padahal ia murid yang
sangat cemerlang. Ia hafal segala teori untuk menakuti-nakuti anak kecil. Belum
lagi, ia harus bersaing dengan Sulley Sullivan, yang menyandang nama besar
orang tuanya sebagai monster yang hebat.
![]() |
| via Likes.com |
Well, film ini mengajarkan tentang sebuah
perjuangan, pembuktian diri, kerja keras dan pastinya persahabatan.
Tau gak sih… after five years… ini adalah film
yang pertama gue tonton. Yup, semenjak melahirkan Mika, gue belum pernah lagi
nonton di bioskop. Dan, gue pun terhibur nonton bareng Mika.
Tapi, yah, sayangnya Mika gak ngeliat ending dari
film ini, gara pengen pipis. Padahal tinggal dikittt lagi, tau-tau Mika bilang,
“Pengen pipis, mama.” Gue pengen nyuruh Mika tahan sebentar, tapi mukanya udah
memelas banget. Dan ya, Mika sih gak peduli ending-nya seperti apa.
Agenda selanjutnya adalah nonton ‘Turbo’ atau ‘Despicable
Me 2’
























